Jawaban Terhadap Surat Terbuka Rahmat Siliwangi, Warga Mustika Jaya, Bekasi

22 09 2010

Dikutip dari Rakyat Merdeka Online Jum’at, 17 September 2010 , 15:25:00 WIB

Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut. Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini. Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.

SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan. Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli. Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP. Warga selain musliUuim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan. Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan. Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.
Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak. Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.
Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak. Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.
Dan kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP. Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).
Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa, Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka. Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anda ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.
Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar. Kita ini orang
timur, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidak dimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun! Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.
Salam,
Agustus 2010,
Mustika Jaya Bekasi
Rahmat Siliwangi

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=4062

http://supermilan.wordpress.com/2010/09/18/inilah-alasan-lengkap-warga-mustika-jaya-tolak-gereja-hkbp/
===================================================

Saya bisa mengerti bagian dimana orang Batak dinilai kasar dan arogan dikarenakan logat bicara orang Batak yang sangat khas. Saya kira semua orang Batak pernah mendengar perndapat itu, dan kami memakluminya. Tapi sebenarnya kita harus sadar, antara “terdengar kasar” dengan “bermaksud kasar” ada perbedaan mendasar. Sebagai orang Batak yang tinggal di Banten, lucunya saya juga mendengar komentar yang sama dari orang Sunda Bandung mengenai logat bicara orang Sunda Banten yang bagi kami biasa saja, tapi dinilai arogan, keras, dan kasar serta sok jagoan. Konyolnya lagi pendapat warga Banten tentang orang Madura yang juga kurang lebih sama atau antara orang Betawi dengan orang Sunda misalnya yang dinilai genit dan suka bercanda seronok alias cunihin. Begitu juga warga Betawi yang dinilai suka bicara kasar, ngotot dan petantang petenteng mentang mentang penduduk asli Masih banyak contoh lain yang bisa kita kemukakan disini. Dan kami bisa mengerti itu karena kami merasakan juga stereotype yang sama padahal itu bukanlah kearoganan ataupun kesombongan. Itu murni cara bicara yang tidak ada hubungannya dengan kearoganan. Tidak ada sangkut pautnya logat bicara seorang Banten dengan kejagoannya dia bersilat lagak jawara misalnya. Kami mengerti banyak faktor yang membuat mereka begitu tanpa harus memandang bahwa semua orang dari suku mereka pasti begitu.

Saya tidak mendapat alasan kuat dari pendapat Anda ini : “mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri”…” dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi”…”Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka” Bagaimanakah kami harus hormat kepada warga sekitar? Haruskah kita bersalam-salaman terus setiap ketemu? Atau haruskah kami meminta ijin setiap kami lewat? Mestikah kami mencium tangan tetua warga setiap berpapasan? Saya pikir sekedar menyapa atau bilang permisi itu sudah cukup sopan. Kalaupun ada yang tidak menyapa, itu bukan berarti tanah anda menjadi hak milik mereka bukan?

Saya heran anda tidak mengerti bagaimana orang Batak mulai berdatangan ke rumah yang dijadikan gereja. Itu dikarenakan mereka adalah pendatang seperti halnya kami mengerti bagaimana di kampung kami banyak suku Jawa atau Minang atau Aceh atau Melayu dan mereka mendirikan masjid lantas berdatangan untuk beribadah. Itu karena kami mengerti mereka tinggal berjauhan dan ditempat mereka tidak ada masjid. Saya tidak memandang mereka yang mondar-mandir mau beribadah ke masjid tanpa menyapa opung kami sebagai sesuatu yang arogan.

Saya tidak mendapat bukti kuat dari pendapat Pak Rahmat : “Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku. Bisa dijelaskan apa bentuk intimidasi tersebut? Saya pikir menggoda wanita bukanlah perilaku orang Batak saja. Kita semua juga pernah mendapat pengalaman itu, putri saya juga sering digoda penduduk bukan pendatang. Pemuda mereka pun sering mabuk-mabukan bahkan memakai narkoba. Apakah itu menjadi stereotype kami terhadap warga asli? Hanya karena beberapa orang dari mereka genit, mabuk-mabukan dan memakai narkoba lantas semua warga asli memang bejat? Ada yang aneh dari pernyataan anda disini. Anda menyamaratakan stereotype yang di suku manapun ada pelakunya.

Mengenai makan dan memotong babi, sekedar info, sebelah rumah saya adalah seorang haji yang tiap Idul Adha memotong puluhan kambing. Anda bayangkan bau feses dan kencing yang dikeluarkan binatang itu sampai ke rumah saya. Apa saya merasa terintimidasi? Saya memaklumi hal itu sebagai bagian yang harus dipikul bersama sebagai warga negara heterogen dimana semua kepentingan publik dapat bersinggungan. Saya tidak mengerti bagaimana bau daging bisa membuat hal itu sebagai suatu hal yang menghina dan dinilai arogan atau tidak tahu diri. Pengalaman anda itu kami rasakan juga dikampung kami dan kami tidak memandangnya sebagai hal yang negatif. Tentu saja pandangan negatif ini ada karena Islam mengharamkan hal itu. Sama halnya kami memandang negatif muslim yang bangga berpoligami di kampung kami bahkan mempropagandakan hal itu sebagai budaya timur. Jelas ini lebih berbahaya dari sekedar makan daging babi atau anjing. Ini juga merusak tatanan sosial yang ada disana, juga mersuak mental dan moral generasi muda dan jelas ada hubungannya dengan ajaran Islam. Tapi apakah kami melarang masjid berdiri? Kan tidak.

Yang saya tidak mengerti adalah bagian ketidaksukaan anda terhadap “tindak-tanduk” orang Batak berakibat dengan tidak diberikannya ijin mendirikan gereja. Saya amat sangat bingung kalau anda menghubungkan kearoganan, kekasaran, kesembronoan, ketidaktahu dirian, ketidak tahu maluan, dan sikap menyebalkan kami dengan ijin beribadah. Padahal anda sendiri menyatakan bahwa banyak non muslim yang bukan Batak berpendapat sama dengan anda. Jadi bukan gereja yang jadi masalah.

Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.

Jelas sekali kalau Bapak Rahmat Siliwangi hendak membelokkan masalah pembangunan gereja dengan mengait-ngaitkannya kepada stereotype negatif orang Batak. Jelas sekali Pak Rahmat melebih-lebihkan kalau semua kekerasan dan kejahatan yang terjadi disana itu hanya dan oleh orang Batak saja. Kalau boleh saya menyimpulkan pendapat Anda, karena perilaku orang Batak sudah paling buruk di bumi ini lah maka tidak pantas untuk beribadah, maka tidak boleh mendirikan gereja. Entah apa bapak mengerti, bahwa ini tidak nyambung bahkan terkesan dicari-cari. Pernyataan Anda bahwa banyak warga non muslim pun merasa tidak suka dengan perilaku negatif orang Batak diatas sebenarnya sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak berhubungan dengan agama.

Sebagai orang Batak, saya mengerti ada banyak ketidak sempurnaan dalam perilaku orang Batak. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak sempurna. Sebagaimana saya juga mengerti ketidaksempurnaan warga muslim di kampung kami atau dimanapun. Tapi itu bukan berarti kami melarang mereka beribadah dengan melarang mereka mendirikan masjid. Sama halnya saya tidak begitu yakin bahwa setiap warga Mustika Jaya adalah calon penghuni surga berhati malaikat yang berakhlak mulia tanpa ada cela.

Salam.
Tuhan Yesus Mengasihi Anda.
Jephanya Manalu





Ormas Islam dan Jemaat HKBP Bekasi Bentrok

2 08 2010

Aneh bin ajaib, pejabat negara ini seperti tuli, bisu & buta. Ada anak bangsa dilarang beribadah karena izin, padahal izin sudah diurus dan tak pernah diproses, sementara masjid dengan mudah didirikan dan ada yang tak pernah berizin bahkan tempat-tempat maksiat dengan mudah berdiri megah. Sampai kapan masalah ini didiamkan?

Wahai SBY dan para menteri serta wakil-wakil rakyat, sejenak berhenti berbicara saja dan berbuat. Apakah sampai darah mesti tertumpah supaya Anda mendengar? Kalau karena kritikan konvoy mobil saja saja Anda sampai mengeluh dan curhat, bayangkan masjid Anda mesti meminta izin untuk shalat. Ini masalah kehidupan berbangsa dan beragama dan tak ada perhatian dari kalian. Sampai kapan topeng-topeng kalian dipasang? Masih tengiang-ngiang ditelinga kami janji-janji kampanye kalian supaya kami memilih. Haruskah MELANJUTKAN kezhaliman ini?

==================================================

TEMPO Interaktif, Bekasi – Bentrok antar organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dengan jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Timur Indah, kembali terjadi, Ahad (1/8). Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Bentrok terjadi ketika sekitar 200 anggota ormas Islam mendatangi lokasi kebaktian jemaat gereja di lahan kosong Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, meminta bubar karena tidak mengantongi izin.

Namun, jemaat gereja bersikeras melanjutkan kebaktian, dipimpin Pendeta Luspida. Ormas Islam marah, lalu memaksa jemaat gereja meninggalkan lokasi kebaktian. Sekitar 400 personil Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi, terpaksa membuat lingkaran memakai tameng besi.

Di dalam lingkaran itu, jemaat tetap melanjutkan kebaktian. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Semakin mereka diminta bubar, semakin keras suara pujian mereka.
Sikap itu membuat marah ormas Islam.

Barikade polisi diterobos, kemudian terjadi adu pukul antar kedua belah pihak. Beberapa jemaat gereja perempuan berlari sambil menangis, mereka meminta perlindungan polisi.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Komisaris Besar Imam Sugianto, mengatakan konflik agama tersebut berlarut-larut dan terjadi setiap Ahad karena Pemerintah Kota Bekasi, tidak berani mengambil tindakan tegas.

“Saya minta Wali Kota berlaku tegas,” kata Imam kepada Tempo di lokasi kejadian.

Menurutnya, kehadiran jemaat gereja HKBP di Kampung Ciketing Asem tanpa melalui proses hukum yang jelas. Seperti izin, tidak direalisasikan. Begitupula tanda tangan warga minimal 60 orang yang setuju adanya kebaktian tidak dilakukan.

“Saya minta kedua belah pihak saling menghormati, jangan menambah deretan permasalahan sosial yang rumit, sebelum jatuh korban,” ucapnya.

Menurutnya, Pemerintah Kota Bekasi dan Kementerian Agama seharusnya bersikap tegas. Apabila jemaat gereja HKBP tidak memenuhi persyaratan-persyaratan menggelar kebaktian dan berencana membangun gereja, semestinya dua instansi itu mengeluarkan larangan keras.

“Kalau sudah dikeluarkan aturan tegasnya, polisi bertugas menegakkan aturan tersebut,” katanya.

Koordinator ormas Islam Murhali Barda, mengatakan jemaat gereja HKBP tidak mentaati aturan. Murhali melihat, sikap jemaat HKBP yang bersikeras melakukan kebaktian meski tanpa memiliki izin merupakan aksi provokasi.

Tujuannya, umat Islam melakukan aksi anarkis sehingga jemaat gereja merasa didzolimi. “Ini provokasi, seakan-akan mereka didzolimi, dan itu yang dijual ke masyarakat luas,” kata Ketua Front Pembela Islam Bekasi Raya itu.

Pendeta Luspida, sebelumnya mengatakan lahan yang digunakan kebaktian adalah milik jemaat HKBP, sehingga mereka sah memakai lahan itu untuk kegiatan peribadatan. “Kami juga telah mengurus izin tetapi belum direspon,” katanya.

Sumber





Bupati Bekasi dari PKS Berada Dibalik Penyegelan Gereja

27 07 2010

Saya mengikuti terus berita yang menimpa saudara-saudara seiman di HKBP Pondok Timur Indah. Semua persyaratan, tanda-tangan warga sekitar, surat-surat kepemilikan tanah dan lain-lain sudah terpenuhi. Kenapa justru terjadi penyegelan gereja? Terbitnya surat keputusan penutupan gereja malah dari Bupati Saadudin yang berasal dari partai PKS. Kejadian yg sama dengan HKBP Depok yang juga walikotanya berasal dari PKS.

Tampaknyaselalu modus ini yang digunakan: Mempergunakan SKB 3 menteri ttg pendirian rumah ibadah sebagai tameng legal, memakai tokoh dan ormas sebagai kaki tangan provokasi masyarakat sehingga seakan-akan penutupan gereja terjadi karena ketidaksetujuan masyarakat, menggunakan pejabat yang pro Islamis untuk mengeluarkan produk hukum. Hasilnya: diinjak-injaknya kebebasan beragama yang dijamin undang-undang.

===========================================================================

Jemaat HKBP Filadelfia Harap Menag dan Mendagri Konsisten
Selasa, 09 Februari 2010
15:30:58 WIB
Jakarta, RMOL. Sekitar 350 orang jemaat Gereja HKBP Filadelfia, Bekasi, yang mendatangi Komisi III DPR, memohon anggota Dewan agar mendesak Bupati Bekasi membuka segel dan gembok yang menutup bangunan gereja semi permanen mereka.

Salah seorang warga jemaat Filadelfia, D Samosir, menjelaskan alasan penyegelan Bupati adalah jemaat belum memiliki izin membangun sarana peribadatan di atas tanah seluas 1088 meter persegi di desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Jemaat telah memiliki surat-surat kepemilikan tanah yang sah.

Padahal,
jemaat sudah mengantongi tandatangan persetujuan dari 260 warga desa setempat, diketahui oleh Kepala Desa, untuk mendirikan rumah ibadah. Hingga saat ini mereka masih menunggu pengesahan dari Bupati.

Berbagai cara dilakukan aparat Kabupaten Bekasi untuk menghalangi jemaat melakukan ibadah. Pada hari Natal, 25 Desember 2009, Bupati mengerahkan personel Satpol Pamong Praja untuk menutup bangunan semi permanen gereja. Akhirnya, saat ibadah Natal, jemaat hanya menggunakan tenda sederhana.

Lalu pada tanggal 31 Desember 2009, datang surat dari Bupati Bekasi Saaduddin yang isinya larangan melakukan kegiatan ibadah.

Menurut Samosir, di balik penyegelan itu juga ada peran dari kelompok lain yang tidak menandatangani persetujuan membangun gereja.

“Ada Ustad Maimun, Ustad Nesang, Azis Uji. Mereka yang mengkoordinir masyakat lain untuk menolak kehadiran rumah ibadah,” kata Samosir kepada Rakyat Merdeka Online, di gedung DPR, Jakarta, beberapa waktu lalu (Selasa, 9/2).

Pada tanggal 25, 27 dan 31 Desember 2009, tiga orang tokoh masyarakat itu diduga telah mengerahkan massa untuk merusak gereja.

Samosir menjelaskan perwakilan jemaat pun sudah berdialog dengan Camat, Dandim, Sekretaris Desa dan Kapolres setempat. Namun, hasilnya tetap nihil.

“Kami meminta menteri agama dan mendagri untuk sungguh-sungguh melaksanakan dan memberhasilkan pelaksanaan keputusan bersama  nomor 8 tahun 2006 sebagai produk yang dibuat kedua menteri tersebut dan harus dilaksanakan oleh Bupati dan Walikota seluruh Indonesia,” jelasnya.

SKB Menteri Agama dan Mendagri nomor 8 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat.

Peraturan bersama ini mengatur tentang tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat, pembentukan forum kerukunan umat beragama (FKUB) pendirian rumah ibadat, dan izin sementara pemanfaatan bangunan gedung.

Salah satu butir yang tercantum dalam UU bahwa pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis bangunan gedung serta persyaratan khusus. Persyaratan khusus yang dimaksud di antaranya terdapat minimal 90 KTP pengguna rumah ibadat dan dukungan masyarakat setempat minimal 60 orang. [ald]

 

Puluhan Tahun Berdiri, Jemaat Gereja Diusir Ormas dan Polisi
Kamis, 22 Juli 2010
15:39:53 WIB
Laporan: Wahyu Sabda Kuncahyo
Jakarta, RMOL. Puluhan orang jemaat gereja HKBP Pondok Timur Indah (PTI) Bekasi, Jawa Barat, mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk melaporkan tindakan penyegelan dan pelarangan beribadat yang dilakukan sekelompok orang dari Ormas tertentu.

”Kami melaporkan sebuah tindak pidana sistematis dan terencana dengan terlapor saudara Tajuddin, tokoh agama setempat,” ujar Robert Keytimu, kuasa hukum Tim Pembela Kebebasan Beragama di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan (Kamis, 22/7).

Ia menjelaskan jemaat HKBP PTI yang memiliki anggota sebanyak 1500 orang, sudah beribadah di lokasi gereja selama 20 tahun. Namun belakangan, masyarakat terutama Ormas tertentu menolak keberadaan mereka.

Setelah kesepakatan dengan Pemkot Bekasi, jemaat diperbolehkan melaksanakan kebaktian di tempat lain yaitu lahan yang disediakan Pemkot yang berlokasi di Jalan Puyuh Kampung Ciketing Bekasi. Namun pada 18 Juli lalu, ketika jemaat akan melakukan peribadatan, sekelompok massa tetap melarang diadakannya peribadatan di lahan tersebut dengan memasang spanduk berisi larangan dan mengusir jemaat.

”Apapun resikonya kita tetap beribadah di tempat yang diberikan pemerintah,” tegas pimpinan jemaat Pdt Luspida Simanjuntak.

Ia juga menyayangkan sikap Kapolres Kota Bekasi yang tidak berbuat apa-apa saat para jemaat diintimidasi oleh massa. Menurutnya Kapolres melalui stafnya malah meminta supaya kebaktian tidak dilaksanakan dengan alasan jumlah massa yang sangat banyak.

”Kami menyayangkan di sebuah negara demokrasi yang berdasarkan Pancasila tapi penegak hukumnya tidak mencerminkan rasa kemanusiaan. Seharusnya penegak hukum bersikap independen,” jelasnya.

Sementara itu Kadiv Humas Polri, Irjen Edward Aritonang ketika dikonfirmasi mengatakan akan mempelajari laporan tersebut. ”Itu bukan kekerasan,” katanya singkat.[ald]

 

Gereja Disegel Bupati, Jemaat HKBP Filadelfia Diterima DPR
Selasa, 09 Februari 2010
14:46:30 WIB
Laporan: M Hendry Ginting
Jakarta, RMOL. Ratusan jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)Filadelfia Bekasi, sebagian besar perempuan dan anak-anak, mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka saat ini berkumpul di depan lobi gedung Nusantara II. Kedatangan mereka terkait penyegelan gereja mereka oleh Bupati Bekasi.

Gereja HKBP Filadelfia terletak di Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Jemaat ini dibawa pimpinan Pdt. Palti Panjaitan. Sudah beberapa tahun ini, jemaat gereja Filadelfia selalu mendapat gangguan dalam menjalankan ibadah. Pada tahun 2008 saat memperingati Natal, gereja ini pernah diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Pada perayaan Natal 25 Desember 2009, juga gereja diserang massa saat ada kebaktian Natal .

Lebih sadis lagi, selama beberapa minggu terakhir, jemaat terpaksa mengadakan kebaktian pagi di jalan raya karena bangunan gereja mereka telah disegel oleh pihak Bupati Bekasi, Saaduddin . Pihak gereja pun telah mengadukan perkara ini kepada Komnas HAM yang telah menyurati Bupati yang kebetulan berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Saat ini Komisi III DPR RI akan menerima wakil gereja yang dianiaya ini. Rencananya, mereka akan diterima pukul 14.00 diruang rapat Komisi III di Senayan. Hingga saat ini para jemaat masih menunggu agenda pertemuan untuk mencurahkan kesulitan mereka dalam beribadah. [ald]

Sumber : Rakyat Merdeka Online





Mengapa oh Mengapa?

17 03 2010

Ini kasus di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. IMB dan ijin warga setempat sudah ada, masih juga terjadi hal seperti ini. Sumber





Gereja Katolik Maafkan Majalah Al-Islam

10 03 2010

Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya ya? Yakin bukan hanya gereja yang dibakar, pasti banyak tubuh bergelimpangan tanpa kepala. Beginilah kalau ajaran mengandung kebencian terhadap penganut agama lain, sampai jaman modern begini kecurigaan terus menerus dipelihara, akhirnya kejeblos di lubang sendiri
===================================================
VIVAnews – Pengelola majalah Al-Islam di Malaysia, Jumat 5 Maret 2010, meminta maaf kepada umat Katolik di negara itu. Pasalnya, mereka membiarkan dua orang reporter ikut ibadah di suatu gereja Katolik, termasuk ikut menerima sakramen ekaristi dengan memakan roti suci pemberian uskup.

Seperti dituturkan laman harian The Star, peristiwa itu terjadi tahun lalu. Dua reporter Al-Islam saat itu tengah melakukan peliputan untuk berita khusus bertema “Tinjauan Al-Islam Dalam Gereja: Mencari Kesahihan Remaja Melayu Murtad.”

Liputan majalah yang terbit pada Mei 2009 itu untuk mencari tahu dugaan perbuatan murtad di kalangan remaja dengan pindah ke agama lain. Namun, entah apa motifnya, dua wartawan Al-Islam memutuskan berpura-pura sebagai umat Katolik dan berbadah di Gereja St. Anthony di Puduraya, Kuala Lumpur.

Menurut The Star, dua reporter itu juga mengaku ikut menerima Hosti (roti kecil perlambang tubuh Yesus Kristus) dalam ibadah Sakramen Ekaristi, yang hanya boleh dikonsumsi oleh umat yang telah dibaptis dan telah dinyatakan bersungguh mengikuti ajaran Katolik.

Roti yang sudah dimakan kemudian mereka muntahkan dan dua reporter itu pun sempat memfoto roti itu. Padahal umat Katolik pantang memuntahkan Hosti yang sudah dimakan.

Laporan investigasi yang mereka tulis untuk majalah Al-Islam itu menyimpulkan bahwa tidak ada bukti praktik kemurtadan. Namun perbuatan yang mereka lakukan selama di gereja itu mendapat kritik dari kalangan rohaniwan Katolik.

Merasa tidak enak atas perbuatan dua reporternya, pengelola Majalah Al-Islam minta maaf. “Majalah Al-Islam meminta maaf terkait dengan publikasi artikel itu. Kami tidak pernah bermaksud menghina agama Kristen, apalagi sampai mengganggu atau melanggar ke rumah ibadah,” demikian pernyataan Al-Islam seperti yang dimuat di laman penerbitnya, Utusan Karya, yang juga dimuat di laman The Straits Times.

“Kedua reporter yang terlibat juga telah menyatakan maaf karena tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan dalam penugasan mereka telah menyinggung perasaan umat Kristen. Al-Islam berharap kejadian demikian tidak lagi terulang,” demikian pernyataan tiga paragraf itu.

Sementara itu, Uskup Agung Kuala Lumpur, Tan Sri Murphy Pakiam, Kamis lalu menyatakan pihaknya tidak akan mengajukan gugatan hukum atas Al-Islam maupun kepada reporternya bila mereka melayangkan permintaan maaf secara terbuka.

Murphy sendiri puas atas pernyataan maaf dari pihak-pihak yang terkait. “Kami menerima permintaan maaf sembari mengulurkan tangan kami dalam damai. Komunitas Katolik kini merasa tenang atas permintaan maaf itu. Kiranya Tuhan memberkati negara ini,” tutur Murphy.

Sedangkan Jaksa Agung Tan Sri Abdul Gani Patail menyatakan tidak akan mengusut peristiwa itu dan menyatakan bahwa kedua reporter “tidak tahu pentingnya roti itu.” Sumber
===================================================
Jadi ingat ayat ini :

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
( Mat 5:11-12)





Gereja HKBP Pondok Timur Diserbu Massa

3 03 2010

Saya sudah sering melihat warga yang menggunakan rumahnya untuk shalat. Kenapa yang ini tidak boleh? Rumah tinggal yang dijadikan gereja dalam kasus ini sudah jelas hanya sementara menunggu lokasi gereja yang entah kapan terealisasi alias keluar ijinnya.

Sejak kapan juga warga begitu membenci rumah tinggal dijadikan rumah ibadah? Sementara ribuan rumah tinggal lain berubah fungsi jadi mushala, tempat usaha, kandang ternak, pabrik, tempat main Play Station, tempat biliar bahkan sampai panti pijat.
===============================================

JAKARTA–MI: Untuk kesekian kali proses ibadah ratusan jemaat gereja huria kristen batak protestan (HKBP) Pondok Timur Indah (PTI) terganggu oleh aksi protes massa.

Dua dari tiga jadwal kebaktian terpaksa dihentikan. Gereja yang beralamat di Jalan Puyu Raya No.14 Perumahan Pondok Timur Indah, RW15, Kelurahan/Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi memiliki jadwal kebaktian pukul 06.00, 08.00 dan 10.00 WIB.

“Dari tiga jadwal itu hanya kebaktian pukul 06.00 WIB saja yang bisa dilaksanakan sebab ditengah perjalanan ibadah ratusan massa telah berkumpul didepan gereja,” ujar Pendeta Gereja HKBP PTI Luspida Simanjuntak, Minggu (28/2).

Pantauan Media Indonesia, sekitar pukul 07.30 WIB, sedikitnya 300 massa menyambangi gereja guna meminta pengembalian fungsi rumah tinggal. Massa juga meneriakan ketegasan pemerintah setempat yang terkesan lamban memproses kasus demikian.

“Pemerintah tidak tegas.. rumah tinggal jangan dijadikan tempat ibadah. Kembalikan fungsi bangunan,” teriak salah seorang massa.

Tujuan kedatangan massa ini terkait janji Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi yang akan menyelesaikan persoalan. Pemerintah berjanji akan memindahkan lokasi ibadah ketempat layak namun hingga saat ini lokasi baru untuk menampung jemaat HKBP PTI belum terealisasi.

Luspida menambahkan pihak musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Mustika Jaya mendatangi pengurus gereja dan meminta penghentian ibadah untuk sementara waktu. “Alasan muspika keadaan tidak kondusif.”

Lebih jauh, kata dia, jemaat yang ibadah pukul 06.00 WIB pulang dengan kawalan petugas polisi sementara jemaat yang berniat ibadah pukul 08.00 WIB dan pukul 10.00 WIB hanya berkumpul didalam gereja tanpa melakukan kegiatan sebagaimana biasanya. Jemaat hanya berdiam sambil berdoa bersama.

“Muspika berjanji besok (hari ini) pihak gereja bertemu Walikota Bekasi guna membahas penyelesaian persoalan,” kata Luspida.

Menjelang tengah hari massa yang datang dengan berbekal alat pengeras suara dan ornamen bertuliskan menentang rumah ibadah dijadikan gereja akhirnya membubarkan diri. Kepulangan massa setelah mendapat penjelasan dari perwakilan muspika.

Pekan lalu Kepala Satuan Intelijen Polres Metro Bekasi Komisaris Wibisono menjelaskan HKBP PTI seharusnya disegel Dinas P2B (Penataan dan Pengawasan Bangunan) pada Jumat (12/2). “Pensegelan diundur setelah terjadi rapat dilingkup Muspika Mustika Jaya. Keputusan itu tertuang dalam surat resmi Dinas P2B,” katanya.

Atas dasar kebijakan tersebut, lanjut dia, pensegelan diundur hingga dua minggu kedepan dengan syarat mencari lokasi baru semisal rumah toko (Ruko) atau tempat lain yang notabene bukan rumah tinggal.

Namun karena kebijakan dan solusi pemerintah belum terlaksana, jemaat tetap beribadah sementara massa datang dan berupaya menggagalkan proses kebaktian. (GE/OL-02)

Sumber





GKI Minta Klarifikasi Walikota Soal Gereja Yasmin

3 03 2010

Bermacam cara dan taktik dilakukan agar gereja tidak berdiri. Tapi kasus ini cukup unik, tuduhan memalsukan tanda tangan terbukti di pengadilan hanya fitnah belaka. Tapi Walikota tampaknya lebih patuh kepada ormas daripada Hukum.

Peraturan SKB 3 Menteri jelas berpotensi memunculkan konflik. Mengapa SKB ini terus dipertahankan? Atau ada tujuan menyulitkan minoritas untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara? Atau haruskah SKB 3 menteri ini kami laksanakan di lingkungan non muslim? Apapun jawabannya jelas sekali ada ketidakadilan yang terjadi.
==================================================

Bogor (ANTARA News) – Pihak Gereja Kristen Indonesia (GKI) akan meminta klarifikasi dari walikota Bogor terkait pencabutan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk pembangunan Gereja Yasmin yang pernah dikeluarkan Pemkot Bogor pada 2006.

“Kami akan meminta penjelasan dari walikota soal pencabutan itu karena keputusan pengadilan sudah memenangkan kami,” kata pimpinan proyek pembangunan GKI Yasmin Thomas Wadudara di Bogor, Selasa.

Menurut Thomas Wadudara, keputusan PTUN Bandung perihal pembangunan gereja tersebut merupakan sebuah kekuatan hukum yang mutlak dan harus dihormati seluruh pihak.

Apalagi dalam pengadilan juga sudah diperiksa soal surat-surat pernyataan tidak keberatan dari warga yang belakang ini dikabarkan ada pemalsuan, katanya.

Ia menduga ada tekanan-tekanan pihak tertentu yang mempunyai kepentingan politik sehingga pembangunan rumah ibadah itu tidak bisa terlaksana.

“Seharusnya jika sudah ada keputusan pengadilan, semuanya harus mentaati,” kata Thomas ketika ditemui saat berjaga di depan lokasi gereja yang akan dibangun tersebut.

Di lokasi gereja yang terletak di Jl KH Abdullah bin Nuh nomor 31 Taman Yasmin, Kelurahan Curug Mekar, Bogor Barat itu tidak terlihat kegiatan pembangunan. Di atas lahan seluas sekitar 1.700 meter persegi itu hanya tampak kerangka atap baja.

Sejumlah aparat kepolisian juga tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya aksi unjuk rasa terkait pembangunan gereja tersebut.

Sebelumnya, Senin (1/3), ratusan massa Hisbut Thahrir Indonesia (HTI) Cabang Bogor mendatangi gedung Balai Kota Bogor untuk memprotes pembangunan Gereja Kriten Indonesia (GKI) Yasmin yang dinilai melanggar hukum karena diduga memanipulasi tandatangan warga setempat untuk mendapatkan izin membangun bangunan (IMB).

Aksi ini dilakukan massa HTI sebagai tindak lanjut dikeluarkannya surat pencabutan IMB oleh Pemkot yang ditandatangani oleh Wali Kota Bogor.

“Pemerintah harus mengawal surat pembatalan rekomendasi jangan sampai pembangunan gereja berlanjut setelah keluarnya surat pencabutan rekomendasi pembangunan gereja tersebut,” ujar Rokim Abdul Karim, koodinator aksi HTI Cabang Bogor

Sementara itu, Asisten Tata Praja Kota Bogor Ade Syarif Hidayat menyebutkan bahwa surat pencabutan rekomendasi pembangunan gereja Yasmin telah dilayangkan pada tanggal 25 Februari 2010.

Menurutnya, surat pencabutan rekomendasi IMB tersebut dikeluarkan berdasarkan rekomendasi Wali Kota Bogor Nomor 601/389-Pem tanggal 15 Februari 2006.

Dalam rekomendasi pembangunan gereja poin 12 menyebutkan; apabila pemohon tidak memenuhi segala ketentuan yang telah ditetapkan dan apabila dalam pelaksanaan pembangunan dan kegiatan Gereja Kriten Indonesia Jabar seluas 1.720 meter persegi menimbulkan keresahan masyarakat maka rekomendasi ini batal dengan sendirinya dan segala seriko menjadi tanggung jawab pemohon.
(T004/B010)

sumber

Lihat postingan dulu