Hadiah Lebaran Ustad Mokoginta

26 08 2011

Mari Belajar Menjawab Mereka 9

Beberapa tahun yang lalu, terbit sebuah buku yang eksotis dan menggemaskan kalau ku bilang, judulnya pun cukup menantang : “Mustahil Kristen Bisa Menjawab”. Ditambah pula hadiahnya yang mobil BMW itu, membuat buku ini menjadi semakin meyakinkan kalau orang Kristen bakal tidak bisa menjawab. Buku itu ditulis Ustad Ihsan L Mokoginta, seorang mualaf keturunan Manado – Tionghoa. Beliau cukup terkenal dikalangan muslim karena latar belakangnya yang mantan Kristen, membuatnya terlihat ahli dalam agama Kristen sehingga apa yang dikatakanya tentang kekristenan benar karena dianggap lebih “berpengalaman”. Bapak ini bersemangat sekali mengislamkan orang Kristen. Diberbagai pernyataannya beliau dengan terang-terangan mengaku sudah memualafkan banyak orang kristen, mendirikan lembaga serta menerbitkan banyak buku untuk Islamisasi yang menyerang Kekristenan.

Dalam buku ini ada sebelas pertanyaan dan setiap pertanyaan diberi nilai 10 juta rupiah apabila terjawab. Sebuah tantangan yang amat menarik, ditambah hadiah utama mobil BMW yang bikin ngiler tentu saja. Tapi banyak orang yang meragukan adanya hadiah tersebut yang memang agak lebay, alias berlebihan menurut istilah anak gaul sekarang. Sudah banyak jawaban yang diberikan atas “sayembara” ini, yang amat baik, diantaranya buku “Siapa Bilang Kristen Tidak Bisa Menjawab” oleh Pdt Budi Asali, di internet juga bertebaran pembahasannya, salah satunya klik disini. Namun tetap saja jawaban yang ada ini dinilai bukan jawabannya, karena memang bukan itu jawaban yang mereka inginkan. Jawaban yang benar bagi mereka adalah jawaban yang persis sama dengan yang mereka mau. Sampai sekarang tidak jelas bagaimana akhir “sayembara” ini.

Buku Ustad Mokoginta ini juga bukti bagaimana jargon Alquran “Agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu” menjadi mentah oleh muslim sendiri. Jargon defensif dan ekslusif ini yang sering diucapkan muslim seakan-akan tidak mau usil mencampuri agama lain, ternyata dikangkangi oleh Ustad mereka sendiri. Bagaimana tidak, tanpa ada angin tak ada hujan, tiba-tiba terbitlah buku yang ofensif seperti ini. Bayangkan kalau terbit buku semacam ini dari pihak non muslim.

Disini saya tidak mencoba menjawab satu-persatu pertanyaan dari Bapak Mokoginta, apalagi mencoba mendapatkan BMW-nya (kalau dari seri X kesukaan saya, akan saya pertimbangkan). Saya mencoba mencari tahu bagaimana cerdiknya pak Mokoginta ini. Bagi saudara-saudaraku seiman yang belum mengetahui bukunya atau bahkan duduk perkaranya, ada baiknya mencari tahu dahulu pembahasan yang sudah diberikan oleh salah satu penjawab yang ada diatas, supaya tahu jawabannya karena yang saya bahas diluar dari pada itu. Mari kita perhatikan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaannya:

1. Apakah Yesus beragama Kristen?
2. Mana Ajaran Yesus ketika 13 sampai 29 tahun?
3. Pernahkan Yesus Mengatakan: “Akulah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”
4. Pernahkan Yesus Mengatakan: “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”
5. Mana perintah Yesus atau Tuhan untuk beribadah pada hari Minggu?
6. Mana dalilnya dalam Alkitab Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia?
7. Mana dalilnya asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dijamin “pasti masuk surga”
8. Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya?
9. Mana dalilnya Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah merayakannya!
10. Buktikan siapa yang hapal Alkitab walau satu surat saja diluar kepala!
11. Pertanyaan hadiah BMW: Mana bukti ucapan Yesus yang mengatakan bahwa ada tertulis demikian: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” dalam kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur.

Kalau memang Ustad Mokoginta ini tulus melakukan sayembara, beliau seharusnya membayar banyak orang Kristen minimal 10 juta rupiah masing-masing. Karena saya kira banyak orang Kristen yang baik bisa menjawab pertanyaan nomer 7 dengan mudah. Belum lagi pertanyaan lain yang orang awam seperti saya bisa menjawabnya. Jadi minimal sekali 20 Juta. Tapi itulah, jawaban yang kita berikan hampir pasti dinilai salah kalau bukan itu jawaban yang sama persis dia mau. Namanya juga dia yang melakukan sayembara, dia pula yang mengangkat diri jadi jurinya. Tapi buat muslim yang membaca tulisan ini dan ingin tahu jawabannya, ini jawabannya:

Yoh 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yoh. 14:6
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kis. 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Kembali ke la…pooo! Perhatikan bentuk pertanyaan yang diberikan Ustad Mokoginta diatas. Hampir semua pertanyaan meminta secara presisi/akurat data/dalil atau fakta. Variasinya hanya “mana dalil” dan “pernahkan” yang intinya sama yaitu meminta data akurat. Disinilah jebakan Betmen itu berada. Kenapa saya katakan begitu, ingatlah bahwa buku ini yang walaupun ditujukan untuk orang Kristen, tetapi yang membaca sebagian besar adalah muslim. Ini keuntungan awal yang entah sengaja atau tidak oleh Ustad Mokoginta untuk membuat pertanyaan kearah data yang presisi/akurat seperti diatas. Beliau tahu betul pertanyaan-pertanyaan itu memerlukan penjelasan. Ini tampak dari setiap ulasan yang dia tulis dalam bukunya setelah 1 pertanyaan, terlihat betul dia sudah menguasai dan mengarahkan jawaban. Sehingga kita diarahkan harus menjawab yang diminta saja. Sedangkan pembacanya yang muslim, yang sebagian besar tidak tahu duduk masalahnya, sudah diarahkan oleh pertanyaan itu sendiri agar mendapat jawaban yang singkat. Sehingga apapun jawaban yang diberikan akan terasa “berputar-putar”. Bentuk pertanyaan seperti ini secara otomatis akan memangkas penjelasan yang sebenarnya diperlukan sekaligus mendiskreditkan jawabannya kalau terlalu panjang. Ini murni “kecerdikan” beliau.

Yang agak berbeda dari semua adalah pertanyaan nomer 1: Apakah Yesus beragama Kristen?. Bagi kita pertanyaan ini konyol sekali. Sama saja seperti bertanya kepada muslim: Apakah Allah beragama Islam? Bodoh sekali bukan? Tentu saja jawabannya adalah: Tidak. Bagaimana mungkin Kristus jadi pengikut Kristus?

Walaupun Yesus dalam hidupnya melakukan ibadah Yahudi, tetapi jelas Dia melakukan itu untuk reformasi besar yang dilakukanNya dari agama Yahudi seperti: Pembaptisan, Perjamuan Kudus, Konsep tentang DiriNya yang satu dengan Allah, Penebusan dosa, KedatanganNya yang kedua kali, dll, dlsb, dst yang membuat pengikutnya berbeda dari agama Yahudi. Harap diingat umumnya muslim tidak mengetahui bahwa Yesus tidak pernah membawa agama ke dunia ini. Pendapat ini dipengaruhi oleh Alquran yang menyatakan bahwa Isa Al masih adalah nabi dan pembawa agama nasrani. Dan perhatikan bahwa pertanyaan Ustad Mokoginta ini jadi berlawanan dengan Alquran. Kalau memang Yesus tidak beragama Kristen, lalu kenapa Ustad ini bertanya lagI? Konyol bukan? Bukankah Alquran jadi terbukti salah kalau Yesus tidak beragama Kristen? Ini blunder yang diciptakan oleh ustad mereka sendiri. Biarlah mereka sendiri yang bingung.

Lantas apakah ini membuat kekristenan salah? Apakah Kristen seharusnya tidak boleh ada lantaran Yesus bukan Kristen? Persepsi inilah yang sedang dimainkan Ustad Mokoginta. Bagi muslim adalah aneh kalau Yesus sendiri tidak beragama Kristen. Ini karena mereka selalu berpatokan Yesus/Isa itu sama seperti Muhammad yang mendirikan agama lantas melakukan segala ritual agama itu, sembari mencontohkannya ke pengikutnya. Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang memainkan rumus yang sama: kalau tidak ada, maka salah. Simple question from simple mind.

Pertanyaan nomer 3 & 4 pun bernuansa yang sama. Kalau Yesus tidak pernah berkata: “Akulah Tuhanmu, sembahlah Aku saja” maka Yesus bukan Tuhan. Kalau Yesus tidak pernah berkata “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya” maka Alkitab bukan wahyu Tuhan. Pola pikir yang berulang-ulang dimainkan oleh banyak ulama mereka. Pertanyaan no 1, 3 & 4 diatas sudah dikondisikan dalam persepsi muslim terlihat dari pola pikir pertanyaan yang muncul. Pertanyaan nomer 5 & 9 pun masih berada dalam ruang lingkup seperti ini.Bagi mereka, kalau Yesus tidak mengatakan atau Alkitab tidak menuliskan dengan persis, maka beribadah hari Minggu itu salah, dan merayakan natal tanggal 25 Desember itu juga salah. Apakah orang Kristen tidak jadi masuk surga kalau salah tanggal merayakan Natal atau salah hari beribadah? Memprihatinkan sekali cara ulama mereka mendidik umatnya.

Dari seluruh pertanyaan yang paling konyol menurutku adalah no. 8: Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya? Ini pertanyaan salah secara bahasa, karena baru tahun 1930-an fotografi ditemukan. Entah bagaimana menemukan foto dari tahun awal Masehi?. Anggaplah ini bukan salah satu trik yang beliau gunakan. Anggaplah yang dimaksud adalah gambar lukisan dan pelukisnya. Kalau ditanya mana lukisan asli dan siapa pelukisnya, ini juga konyol. Dalam bukunya Ustad Mokoginta menunjukan banyak lukisan Yesus yang berbeda-beda. Tentu saja beda, sebab mereka yang melukis itu tidak ada yang pernah melihat Yesus. Jadi memang tidak ada gambar yang dijamin mirip dengan wajah asliNya.

Ustad Mokoginta sudah mengetahui bahwa tidak ada lukisan Yesus yang dijamin kemiripannya 100%. Lantas untuk apa beliau mengajukan pertanyaan ini? Kuncinya ada pada pembacanya. Mereka yang membaca buku ini kebanyakan adalah muslim yang mengira bahwa kita ini mempercayai lukisan Yesus yang banyak beredar sekarang sebagai lukisan wajah Yesus asli. Dalam pikiran mereka hal ini adalah kebodohan dan menjadi bahan tertawaan. Beliau tahu hal ini dan mempergunakan persepsi mereka ini untuk menjatuhkan kredibiltas Kekristenan. Walaupun hal itu tidak ada pengaruhnya untuk kita, karena kita sudah tahu hal ini, namun pertanyaan ini membuat mereka bersemangat karena mengira menemukan aib-aib segar yang membuat mereka semakin yakin bahwa Islam agama yang paling benar dimata Allah mereka.

Pertanyaan nomer 2 masih seragam dengan nomer 8. Bagaimanakah kita menemukan catatan tentang Yesus dari umur 13 sampai 29 tahun kalau memang tidak ada? Apa itu berarti Kekristenan runtuh kalau tidak ada catatannya? Apa itu berarti Isa Al Masih jadi bukan nabi yang diakui Alquran kalau tidak ada catatannya?

Untuk pertanyaan nomer 10 dan 11 sudah terjawab dengan baik disini >>Klik disini<<. Bahwa ada orang yang pernah hapal Alkitab dan penjelasan yang baik sekali dari pertanyaan nomer 11. Bapak Ustad Mokoginta berhutang minimal 20 juta dan mobil BMW untuk sarapanpagi.org

Jadi apa saja yang dipergunakan Ustad Mokoginta untuk menyusun buku ini? Pertama, pertanyaan-pertanyaan yang sudah dikondisikan yang meminta jawaban singkat & akurat padahal sebenarnya sudah tahu harus dijawab dengan penjelasan. Kedua, yang menjadi jurinya adalah dirinya sendiri, sehingga apapun jawabannya yang menilai Ustad Mokoginta sendiri. Ketiga, hadiah yang menghebohkan sehingga meyakinkan pembaca muslim bahwa tak ada orang Kristen yang bisa menjawab. Murni "kecerdikan" seorang ulama.

Untuk itu aku pun mau memberikan hadiah untuk Ustad Mokoginta. Hadiahnya bukan barang mewah macam mobil BMW ataupun Boeing 747. Saya tidak memiliki bentuk pertanyaan yang menjebak yang meminta dalil atau semacamnya. Begini, salah satu Hadits mengatakan : “Pada akhir jaman, umatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) cabang, dan yang masuk surga hanyalah satu, yakni yang kembali kepada Al~Qur’an dan Hadist!”

Pertanyaan saya: Bapak Ustad Mokoginta yakin bahwa aliran Islam yang bapak anut sekarang adalah yang menjadi satu-satunya aliran yang bakal masuk surga?

Hadiahnya adalah anda mengatakan jawabannya pada setiap Non muslim yang anda Islamkan.





Yuhuu! Alkitabku Jadi Bahasa Batak lho!

20 07 2010

Mari Belajar Menjawab Mereka 8 : Alkitab sudah dipalsukan

Sejujurnya, saya bingung harus memulai dari mana, karena dari semua tuduhan Islam terhadap Kekristenan, inilah yang paling serius, seru dan menarik, lucu dan sekaligus urakan campur aduk tak menentu. Tapi bagaimana juga, kita harus berterima kasih terhadap saudara kita terkasih muslim, karena mereka adalah salah satu pihak yang memicu berbagai penelitian yang berujung pada kebenaran Alkitab. Aku jelaskan dulu mengapa saya katakan paling serius, seru dan menarik, lucu dan sekaligus urakan.

Saya bahas yang paling serius dulu: tuduhan ini sering mendasari berbagai hate speech (kotbah menebar kebencian) yang dilakukan sebagian ulama mereka untuk menjatuhkan kredibilitas Alkitab. Bagaimana pikiran anda tidak negatif jika tetangga Anda dicap percaya kitab palsu. Beli buku bajakan saja sudah tidak enak didengar, ini kitab suci dipalsukan? Apa gak sedeng ya? Sudah begitu kita yang dicap memakai kitab suci afkiran ini masih disebut sering menghina Alquran. Buset dah.

Yang paling seru dan menarik:  karena muslim biasanya jadi membabi buta mencari-cari kesalahan atau kontradiksi Alkitab untuk menunjukan “bukti” tuduhan ini. Anda pasti pernah geleng-geleng kepala melihat begitu membludaknya kreatifitas saudara kita ini mencari-cari “kesalahan” Alkitab, bahkan pada hal yang begitu absurd untuk dimengerti orang awam seperti saya. Jangan heran jika respon komentar mereka nanti pun berputar-putar di model beginian, tanpa mau mendengar jawabannya. Bagi Anda yang butuh sumber untuk menjawab model seperti ini, sudah banyak sekali website yang menyediakan jawaban-jawabannya: Pembahasan Alkitab dalam bahasa Indonesia klik disini ; pembahasan “Alkitab yang Diedit” ada disini ; pembahasan “kesalahan & kontradiksi Alkitab”  klik disini

Mengapa saya katakan yang paling lucu, muslim menuduh Alkitab dipalsukan tapi  tidak memiliki apa yang menurut mereka Alkitab yang asli. Jangan kaget kalau mereka menggunakan injil Barnabas dan menyatakan itu adalah injil yang asli. Kita bagai menghadapi manusia robot yang hanya bisa berfikir menurut apa yang telah diprogramkan, tanpa bisa kritis keluar dari belenggu yang menyebabkan mereka menjadi berfikir begitu. Anehnya lagi mereka sering memakai ayat-ayat Alkitab yang menurut mereka sudah dipalsu, diedit, digonta-ganti ini untuk membenarkan nubutan tentang Muhamad.  Hal yang sama juga dilakukan pada agama lain seperti Budha/ Hindu, yang kerap kali mereka hina,  namun pada saat yang sama dengan seyakin-yakinnya memakai kitab agama Budha/Hindu untuk membenarkan kedatangan Muhamad. Entah bagaimana mereka sanggup menjilati kembali ludah mereka. Bahkan ketika selesai melakukan itu dan kita menjawabnya, mereka sering memposisikan diri sebagai yang terzholimi dan merasa dihina agama, nabi dan Alqurannya. Mendekati mengerikan memang.

Yang paling urakan: muslim memandang rendah Alkitab yang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dan versi, tapi tanpa sadar, juga memiliki Alquran terjemahan berbagai  bahasa dan versi. Lagi-lagi standar ganda. Alquran terjemahan bahasa Indonesia saja sudah lebih dari 3 versi (lihat disini). Biasanya mereka berargumen bahwa Alquran menyertakan bahasa aslinya dalam bahasa Arab jadi bisa melakukan kroscek tidak seperti Alkitab. Ini tidaklah sepenuhnya benar, bahasa Alquran yang asli paling awal ada beberapa versi, yang paling tua dari tahun 150 hijriah dalam bahasa Arab dialek Almail dan yang lain dalam versi kufic  (lihat disini) dan versi arab Quraish yang dipilih menjadi versi Alquran sekarang  (sumber: wikipedia).  Belum lagi perbedaan tulisan, dialek, cara baca dan hal yang paling penting : tewasnya para penghafal Alquran yang paling awal karena perang. Ini yang membuat Utsman bin Affan memutuskan untuk mengumpulkan versi yang menurut dia benar dan membakar versi lain. Jadi, apa yang menjadi keputusan kalifah ini sepenuhnya keputusan pribadi tanpa disaksikan atau ada verifikasi dari Muhamad sendiri sebagai penerima pertama. Tanpa ada satupun muslim yang bisa membuktikan apakah keputusan Utsman bin Affan ini benar atau salah atas mushaf pilihannya dan membakar mushaf-mushaf lain. Mereka ada pada posisi harus mempercayai pilihan seorang manusia.

Pertama-tama kita harus mengerti bahwa yang dimaksud Islam dengan Alkitab berbeda. Mereka hanya mengakui Taurat, Zabur (Mazmur) dan Injil serta Alquran mereka. Jadi kadang percuma mengutip ayat dari kitab lain. Ibarat tubuh, mereka hanya melihat kepala, tangan dan kaki, tanpa mau tahu ada organ lain yang penting, bulu hidung misalnya.  Banyak hal lain yang juga berbeda: Istilah “ahlul kitab” sedikit berbeda dengan pengertian kita pada “ahli kitab”. Bagi mereka ahlul kitab adalah kita (orang kristen) dan Yahudi. Juga kita harus tahu bahwa kebanyakan muslim tidak bisa membedakan Injil dengan Alkitab, bahkan tidak tahu bahwa Alkitab terdiri dari berbagai kitab terkanonisasi. Mereka tidak tahu ada 5 kitab dalam Taurat, tidak tahu ada kitab Matius, Markus, Lukas Yohanes dalam Injil, tidak tahu ada Perjanjian Lama dan Perjanian Baru, dan seterusnya. Perhatikan kalau saya memakai kata “tidak tahu” belum pada tahap “mengerti”. Seiring “berdiskusi” dengan mereka kita bisa melihat perbedaan-perbedaan ini.

Percaya atau tidak, tuduhan ini sebenarnya membuat kebingungan bagi umat Islam sendiri, karena disatu sisi Alquran menyatakan Alkitab dipalsukan, diselewengkan, disisi lain membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Salah satunya ayat ini :
Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulkura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. Al-An’am 6:92

Ada banyak lagi ayat-ayat senada yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Alquran : Al-i-‘Imran 3:3 ; Al-Baqarah 2:41,91; Al-Maidah 5:44, 46,48,68,  Al-An’am 6:92, Yunus 10:73,94, Al-‘Ankabut 29:46, As-Sajda 32:23, Fatir 35:31, Az-Zukhruf 43:4, Al-Ahqaf 46:30 d
Sedangkan ayat – ayat  yang menyatakan adanya pemalsuan Alkitab : Al-Baqarah 2:41, 79
[41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa
[79] Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Ayat senada ada pada: Al-Baqarah 2:42, 75; Al-i-‘Imran 3:71, 78; An-Nisaa 4:46; Al-Maidah 5:13, 14, 15. Perhatikan pada ayat 41 surat Al Baqarah diatas bagaimana Alquran membenarkan Alkitab disatu sisi dan menuduh Alkitab telah diselewengkan terjadi diayat yang sama.

Tuduhan seperti ini bukan hanya membingungkan muslim, tapi juga buah simalakama bagi Alquran sendiri. Perhatikan pernyataan ini : Jika Alquran menyatakan Alkitab sudah dipalsukan, tentu PADA SAAT itu Allah tidak akan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, karena tidak mungkin Yang Maha Tahu, jadi tidak tahu Alkitab sudah palsu. Jika Alquran menyatakan Alkitab dipalsukan SESUDAH Alquran diturunkan adalah hal yang lebih gila lagi, karena perpustakaan gereja dan sinagoga  sudah terlanjur diisi dengan manuskrip-manuskrip yang berasal dari sebelum Muhamad lahir.

Kita jangan terjebak seperti saudara-saudara kita ini, dengan serta merta memakai ayat-ayat Alquran yang membenarkan Alkitab. Jangan mau melakukan jilat-jilatan ludah. Jijik ah. Alkitab dapat dibenarkan karena Kebenaran tidak perlu pembelaan atau pembenaran, alias akan membenarkan dengan sendirinya.

Jadi bagaimana kita membuktikan bahwa Alkitab yang ada ditangan kita sekarang adalah kitab yang otentik, yang bisa kita percayai sepenuhnya? Seperti kita ketahui, Alkitab tidak ditulis oleh satu orang dan pada satu waktu, tapi ditulis puluhan orang mulai dari raja, ulama, nabi sampai pegawai pajak dan rakyat jelata dalam kurun waktu ribuan tahun. Kita memiliki sekitar 5000 manuskript dalam bahasa Yunani yang siap digunakan untuk membuktikan keotentikan Alkitab. Ada sekitar 24000 salinan lagi dalam bahasa-bahasa lain. Tidak seperti Alquran yang dibakar manuskript (mushaf) lainnya, kita justru bisa melakukan kroscek ayat mana saja yang terjadi salah salin/tulis, mana ayat yang berbeda, atau ada yang hilang karena memiliki salinan-salinan lain. Hal yang justru memudahkan kita melakukan penelitian jika memang Alkitab sudah dipalsukan.

Untuk Perjanjian Lama, kita memiliki Septuaginta, serta Targum yang berasal dari abad 3 SM, juga ada teks Masoret, Pentateukh Samaritan, juga teks Qumran. Untuk Perjanjian Baru kita memiliki Codex Vaticanus,  Sinaiticus, Alexandrius, Bezae. Juga berbagai manuskrip papirus dan fragmen. Yang paling tua berasal dari abad pertama Masehi sampai abad ketiga. Belum lagi sekitar 36000 lagi dokumen non Alkitab yang mengambil kutipan sehingga kita bisa melihat sejauh mana reabilitas dokumen. Silahkan surfing dengan oppung Google untuk mengetahui seluk beluk berbagai sumber penting itu juga untuk membaca tulisan lain tentang keotentikan Alkitab.

Tapi walaupun begitu kita tidak boleh menutup mata, harus jujur mengatakan Alkitab memang memiliki kesalahan. Alkitab memang tidak memiliki 50000 error seperti yang dikatakan Ahmed Deedat. Menurut Wescott dan Hort, kesalahan itu tidak lebih dari salah eja dan varian. Hanya 60 yang benar-benar salah tulis, dan dari 60 itu hanya 7 yang dari awal sudah salah tulis. Dan hal ini bukanlah kesalahan fatal yang mengubah iman Kristen, semisal, dari Yesus disalibkan menjadi Yesus digantikan stuntman buat disalibkan, atau dari “kasihilah musuhmu” lantas berubah jadi “penggallah leher musuhmu”. Jadi murni human error mengingat proses pengkopian teks, murni dilakukan manusia.

Satu pertanyaan yang masih menggelitik saya adalah : mengapa muslim begitu mudah mencap Alkitab sudah dipalsukan padahal Alquran sendiri sudah membenarkannya. Ada teori (klik disini) yang mengatakan sebenarnya Muhammad tidak sedang menuduh Alkitab dipalsukan dari tulisan tapi diselewengkan secara verbal. Mungkin mirip bermain-main dalam tafsiran. Anne Cooper dalam bukunya “In The Family of Abraham” memiliki teori mengenai hal ini:  “Alasan utama mengapa Muslim mencap bahwa Alkitab telah dikorupsikan teks-nya adalah karena mereka betul-betul tidak mempunyai pilihan lain lagi. Karena Qur’an disatu pihak membenarkan Alkitab, tetapi belakangan baru diketahui (bukan pada masa-masa sahabat Nabi) bahwa isi keduanya saling tidak cocok, sehingga tidaklah mungkin keduanya turun dari Allah yang sama. Dan karena Qur’an dianggap wahyu yang terakhir dari Allah, maka cara yang paling gampang untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini adalah meletakkan tuduhan bahwa isi Alkitab telah dikorupsikan oleh si pemalsu”.

(Dari berbagai sumber)





Yesus Tidak Pernah Disalib?

8 06 2010

Mari Menjawab Mereka 7

Sumber dari vonis muslim dalam masalah ini adalah Alquran : “dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An Nisaa’: 157)”. Sebagian ulama mereka menafsirkan bahwa orang yang “diserupakan” itu adalah Yudas Iskariot.

Sebenarnya gampang saja untuk cepat-cepat menyudahi debat kusir ini : Apakah anda percaya pada Tuhan yang menipu atau anda percaya pada Tuhan yang memang berkuasa atas maut? Bagi saya, Tuhan yg menyerupakan seseorang untuk menggantikan Yesus dikayu salib itu, adalah Tuhan yang menipu. Bagaimana mungkin Tuhan mau melakukan hal yang Dia sendiri mengutuknya? Lebih mudah untuk dimengerti bahwa Tuhan yang saya percayai itu tidak takut Orang yang diurapiNya mati, tanpa melanggar hukumNya sendiri dengan menipu manusia. Mau disalib, mau dibakar, dirajam, terserah, tapi Tuhan yang saya percayai memiliki kuasa atas maut dan bukannya pengecut menimpakan kematian pada orang lain. Dia adalah Tuhan yang berdiri diatas maut.

Tapi hal itu tidak cukup disini. Kita harus memiliki bukti historis dari sekedar argumen logika. Kita sesungguhnya sudah memiliki banyak bukti historis mengenai penyaliban Kristus : Alkitab. Keempat Injil dan Kitab Kisah Para Rasul sebenarnya sudah mencatatkan bukti kuat penyaliban, kebangkitan dan kenaikan itu buat kita. Mana yang lebih akurat, kesaksian orang-orang yang menyaksikan sendiri kejadian itu atau dari Muhamad yang mengaku mendapat wahyu yang menolak penyaliban Kristus itu 600 tahun kemudian?

Tidak ada yang meragukan kredibilitas kesaksian Injil. Injil ditulis oleh orang-orang yang hidup, makan tidur dengan menjadi murid Yesus (Matius dan Yohanes), dicatatkan oleh orang yang pernah berjumpa dan berhubungan dengan murid-muridnya (Markus), dan juga dikumpulkan diverifikasi ulang dari kesaksian-kesaksian oleh orang diluar kelompok itu (Lukas). Itu saja sudah cukup, belum lagi orang-orang yang ada dalam catatan sejarah itu yang bisa dimintai keterangan verifikasi seperti: Maria Magdalena, Maria Ibu Yesus, Salome, Pontius Pilatus, para Sandhedrin, semua murid-murid Yesus, Simon dari Kyrene, Yusuf Arimatea, semua orang yang menyaksikan penyiksaan termasuk tentara Romawi, penduduk Yerusalem dan lain-lain, dan seterusnya dan sebagainya.

Jadi orang Kristen memiliki:
1. Catatan orang – orang yang menyaksikan (Matius, Markus & Yohanes)
2. Kesaksian orang – orang yang menyaksikan (Semua orang yang terlibat di kejadian tersebut)
3. Verifikasi data dan kejadian dari orang yang menyaksikan (dikumpulkan oleh Lukas)

Lantas atas dasar apa 600 tahun kemudian mendadak turun sebuah wahyu lewat seorang lain yang tidak menyaksikan (saya dapat pastikan kakek buyut beliau pun tidak menyaksikan) dan menyatakan bahwa kita orang kristen tidak meyakini penyaliban Kristus? Bahwa Tuhan kita adalah tuhan yang sama, yang menipu umatnya dengan menyerupakan seseorang supaya Yesus tidak disalib?

Orang lain boleh saja percaya begitu saja wahyu dari satu orang, tapi kita sebagai orang Kristen tidak boleh cukup puas dari sekedar kesaksian beberapa orang yang berada di fihak kita. Kalau terjadi sebuah perkara, polisi akan mengumpulkan saksi-saksi dimintai keterangan. Apakah ada kemungkinan para saksi bersekongkol untuk menutupi fakta? Tentu saja mungkin! Untuk itulah dicari saksi lain dari kelompok yang tidak mungkin merekayasanya. Siapakah mereka punya kesaksian dan tidak mungkin merekayasa fakta? Gampang jawabnya : musuh orang Kristen. Mereka punya semua alasan di bumi untuk menjatuhkan orang Kristen tapi untungnya, puji Tuhan, mereka adalah musuh yang jujur.

1. Kesaksian Orang Yahudi

Sebagai pihak terdepan dalam menentang Kristus, para ulama Yahudi adalah orang-orang jenius, teliti dan telaten mencatat kejadian-kejadian penting disekitar agama. Dalam Kitab Talmud, mereka menuliskan kesaksian tentang Yesus :

On the eve of the Passover Yeshu was hanged. For forty days before the execution took place, a herald went forth and cried, ‘He is going forth to be stoned because he has practised sorcery and enticed Israel to apostasy. Anyone who can say anything in his favour, let him come forward and plead on his behalf.’ But since nothing was brought forward in his favour he was hanged on the eve of the Passover!
—Sanhedrin 43a, Babylonian Talmud (Soncino Edition)

Terjemahan bebasnya :

Dihari sebelum Paskah Yeshu (Yesus) disalibkan. Selama 40 hari sebelum eksekusi dilakukan, pengumuman dibacakan “Dia akan dirajam karena melakukan sihir dan mengajak orang-orang murtad. Siapa saja yang mau bersaksi baginya silahkan maju dan bersaksi”. Namun karena tidak ada yang mau, ia digantung dimalam sebelum Paskah – Sanhedrin 43a, Talmud Babylonia (edisi Soncino)

Dari pihak sejarawan, kita memiliki Josephus :

Now there was about this time Jesus, a wise man, if it be lawful to call him a man; for he was a doer of wonderful works, a teacher of such men as receive the truth with pleasure. He drew over to him both many of the Jews and many of the Gentiles. He was [the] Christ. And when Pilate, at the suggestion of the principal men amongst us, had condemned him to the cross, those that loved him at the first did not forsake him; for he appeared to them alive again the third day; as the divine prophets had foretold these and ten thousand other wonderful things concerning him. And the tribe of Christians, so named from him, are not extinct at this day.
—Josephus , Antiquities of the Jews – XVIII, 3:8-10

Terjemahan bebasnya :

Ada dalam suatu masa, seorang bijaksana, Yesus, yang kalau diperbolehkan menyebutnya sebagai orang, karena beliau melakukan hal-hal yang luar biasa, seorang guru dimana manusia mendapatkan kebenaran dengan sukacita. Dia menarik perhatian banyak orang Yahudi dan Non Yahudi. Dia adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, yang oleh karena usulan para pemimpin kita, telah menghukum dia di salib, dan mereka yang mencintai dia tidak meninggalkan dia, lalu dia muncul kepada mereka dalam keadaan hidup lagi pada hari ketiga, seperti yang dinubuatkan para nabi sebelumnya dan sepuluh ribu hal-hal ajaib lagi tentang dia. Dan suku mereka, Kristen, dinamakan oleh karena dia, tidak musnah sampai hari ini.
– Josephus, Antiquities of the Jews XVIII, 3 : 8 – 10

2. Kesaksian Orang Romawi dan Syiria

Pada masa itu, mereka adalah negara super power dengan prajurit terlatih. Kalau jaman sekarang bisa disamakan seperti Amerika dengan marinirnya. Mereka tahu betul bagaimana menyiksa orang dan membuat mereka mati dikayu salib. Seorang sejarawan mereka, Tacitus, dalam karyanya Annals (tahun 116 Masehi) menyebutkan mengenai Kristus : “Christus…suffered the extreme penalty during the reign of Tiberius at the hands of one of our procurators…”. Terjemahan bebasnya : Kristus…menderita hukuman keras semasa pemerintahan Tiberius oleh salah satu prokurator kita…”

Penulis lain seorang Syiria, Mara Bar – Serapion adalah penulis yang merujuk kepada “Raja Bijaksana” yang dieksekusi orang Yahudi. Seorang penulis lain, satiris Lucian dalam salah satu karyanya pun merujuk kepada Yesus sebagai : “the distinguished personage who introduced their novel rites, and was crucified on that account.” Terjemahan bebas : “kepribadian yang berbeda memperkenalkan kegiatan mereka yang mulia, dan disalibkan karenanya”

Jadi kita memiliki banyak kesaksian yang membenarkan kejadian penyaliban Kristus, baik dari pihak Kristen sendiri, maupun pihak yang berseberangan dengan orang Kristen. Lalu 600 tahun kemudian turunlah ayat yang menolak itu semua lewat seorang manusia dan mengaku-ngaku sebagai wahyu Tuhan, dan mengatakan bahwa kita punya Tuhan yang pintar menipu manusia dengan memiripkan Yudas Iskariot menjadi Yesus, lalu dengan suksesnya menyelamatkan Yesus dari kematian disalib.

Kita bisa berspekulasi seliar mungkin mengenai hal ini, tapi yang penting adalah ini : kita tidak ragu-ragu tentang kematian Yesus dikayu salib. Kalau ada Tuhan yang menyatakan kita ragu-ragu dan berselisih paham mengenai hal ini, padahal nyatanya tidak, entah darimana tahunya itu Tuhan. Tuhan yang penipu yang kabur dari kematian atau Tuhan yang berkuasa atas maut?





Hitler, Kristen Atau Bukan ?

5 05 2010

Mari Belajar Menjawab Mereka 6

Bagaimana dengan Hitler, bukankah dia Kristen?
Pertanyaan ini dilontarkan dengan bermacam variasi, kadang-kadang oleh orang barat yang sering negatif dan melihat semua agama sama rata, dan seringkali oleh muslim yang berfikir mereka telah menemukan sebuah cara menjawab dan untuk mengecilkan kekerasan yang dilakukan oleh radikal muslim. Logika yang sudah terpojok ini, pada pokoknya ingin menempatkan Kekristenan sebagai yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan Hitler, dikarenakan Jerman secara demografi adalah negeri Kristen.

Pikiran pendek ini mengakar di benak mereka yang oleh semangat antikristennya membiaskan objektifitas, karena hal tersebut tidak hanya secara logika inkosisten tapi juga ada ketidakakuratan historis.

Adalah benar bahwa Jerman sebuah negara berpenduduk kebanyakan Kristen, sama seperti semua bangsa di planet ini diidentifikasi menurut agamanya, tanpa memperdulikan apakah mayoritas penduduknya hidup benar menurut ajaran imannya. Hal ini sulit untuk diberikan penilaian kalau dilakukan oleh kebanyakan penduduk ataupun pemimpin yang terpilih.

Jadinya, kepemimpinan dan arah dari sebuah negara seringkali bertolak belakang dengan agama yang sebagian besar dianut. Ketika diktator Syria, Hafez al Assad membantai ribuan kaum fundamentalis di tahun 1982, dia melakukannya untuk tujuan sekuler mempertahankan kekuasaan. Atau Saddam Husein yang melakukan kebrutalan terhadap lawan-lawan politik dan keluarganya. Dan seperti semua pemimpin-pemimpin negara Arab dari zaman ke zaman, mereka bersembunyi dibalik jubah agama untuk membenarkan perbuatannya.

Jadi, kalau Hitler mengutip Alkitab, itu bukan berarti tanda dari iman dirinya dan bukan juga sebagai indikasi pembenaran dari agamanya. Tidak ada alasan lain untuk menjelaskannya, kecuali hal itu dilakukan oleh banyak pemimpin hanya untuk menarik dukungan pada saat kritis walaupun hal itu inkosisten dengan ajaran agama.

Maka pertanyaannya menjadi lebih mendasar : Apa yang memotivasi Hitler dan apakah perbuatannya dibenarkan Alkitab?

Pertanyaan ini jarang sekali ditelaah oleh mereka yang membuat tuduhan bahwa Holocaust adalah kristiani, biasanya mereka melakukannya dengan gaya “hit & run”, beri pertanyaan lalu kabur tanpa mau tahu jawabannya. Hal ini terjadi karena orang percaya apa yang mau mereka percaya, bukan apa yang sebenarnya menjadi fakta. Tidak ada gunanya membuktikan apakah sebuah kepercayaan itu benar atau salah selama kepercayaan itu diterima karena melayani kepentingan pribadi dan menyediakan kenyamanan. Daya tarik lain adalah menggunakan klise (tak perduli seberapa cetek) sering untuk melawan penyelidikan intelektual dimana memerlukan usaha yang lebih untuk melakukannya.

Sebagai contoh betapa berbahayanya kemalasan berfikir seperti ini, kita sering menemukan orang yang sama yang menyatakan bahwa semua Nazi adalah kristen, juga dengan mudahnya menyatakan bahwa tentara Amerika di Irak juga “kristen” (biasanya dengan memakai kata “barat” red). Mungkin mereka masih buta sejarah bahwa Amerika dan sekutulah yang menghancurkan Nazi, tapi tampaknya “keterangan” ini kurang menyinari pikiran mereka yang kontradiktif itu.

Muslim yang menyatakan hal diatas sering “lupa” bahwa Hitler diterima secara baik di dunia Islam, dimana warisannya untuk membunuh Yahudi masih dipelihara hingga kini. Dan, meskipun buku Mein Kampf menyediakan sokoguru filosofi untuk pembantaian yang terjadi, sebenarnya tidak pernah memerintahkan secara vulgar pembunuhan nonmuslim seperti dalam Al Quran (silahkan klik disini).

Untungnya, untuk mereka yang mau sedikit menggali, tidak perlu lama untuk menyadari bahwa bukannya dimotivasi Kekristenan, Hitler memang hanya Nazi. Seluruh filosofinya dibangun atas dasar nasionalisme Jerman dan supremasi bangsa Arya yang menjadi dasar partai nasional-sosialisnya. Dalam kata-katanya sendiri : “Seseorang tidak bisa seorang Kristen dan Jerman, kamu tidak bisa menjadi kedua-duanya”.

Tentu saja, iman Kristen didasarkan Perjanjian Baru yang dengan mudah bisa digunakan untuk membenarkan pasifisme, tapi tidak untuk pembunuhan massal. Tidak ada ayat-ayat yang memerintahkan pembunuhan bagi mereka yang menolak ataupun mengarahkan penaklukan dunia melalui pedang seperti dalam Alquran. Kebalikannya, kita disuruh untuk “berikan pipi kiri kalau ditampar pipi kanan” atau untuk “berkati mereka yang mengutuk kamu” dan diperingati “mereka yang hidup dari pedang akan mati oleh pedang”.

Perang Dunia II sangat sulit untuk dikatakan sebagai cara menyebarkan Kekristenan (karena Hitlerlah yang menginvasi sebagian besar “negara kristen”). Perang tersebut adalah hasil dari pencarian kekuasaan politik dan ekonomi oleh Jerman dan Jepang, motif yang sama yang mendasari banyak perang. Kejahatan Nazi membunuh Yahudi adalah murni rasial, seperti Hitler sendiri katakan di Mein Kampf bahwa Yahudi adalah sebuah ras bukan agama.

Mereka yang tetap beriman pada Kekristenan masuk kamp konsentrasi, selama PD II, komunitas terbesar dari pendeta Kristen ditemukan dalam kamp kematian ini. Nazi mendaftarkan “Geistliche” (pastor, pendeta dan pelayan gereja) bersama-sama “Juden” (Yahudi) dan “Homosexueller” (homoseks) dalam formulir kamp konsentrasi untuk membedakan tahanan.

Meskipun secara umum atmosfer Kekristenan di Jerman membatasi komentar sang Fuehrer tentang agama (dan perlunya untuk melakukan perhitungan untuk menutupi keberadaan kamar gas dari publik Jerman), dia cukup jelas menyatakan pemikirannya : “Melalui kaum petanilah kita bisa menghancurkan Kekristenan, karena di merekalah (kaum petani, red) berakar agama sejati dalam alam dan darah”.

Sangatlah mudah mengisolasi beberapa pernyataan politik Hitler terutama apabila seseorang punya agenda tersembunyi, tetapi seseorang menampakkan keasliannya dari perbuatannya dan perbuatan Hitler membuktikan bahwa ia memang seorang pagan dimana visinya tentang masa depan tidak memasukan kekristenan sebagai agenda.

Ketika Nazi menyerang Polandia di 1939, para rohaniawan Kristen diburu sama seperti mereka memburu Yahudi. Pada tahun 1940, hanya 3% yang tersisa. Ribuan dibantai, termasuk pelayan gereja dan para suster. Mereka yang tersisa dilarang untuk menginjili, memiliki rumah atau berkotbah tanpa sensor. Dalam kata lain, mirip konsep dhimi dalam Islam.

Pada penasehat terdekatnya, Hitler mencaci maki Kekristenan sebagai “penemuan orang Yahudi”, sebuah produk “sakit otak” dan “tak bernyali”. Dia juga mengatakan Kekristenan sebagai “kemunduran terburuk yang pernah terjadi pada umat manusia”.

Hal yang dituduhkan diatas terhadap Kekristenan karena apa yang dilakukan Nazi tidak berkurang oleh bukti bahwa hampir semua orang Eropa yang terlibat memberi tempat perlindungan bagi orang Yahudi, merupakan penganut Kristen taat. Yesus adalah Manusia yang tidak pernah melukai orang dan tidak setuju pada kekerasan.

Kontrasnya, Muhamad merupakan pemimpin militer yang melakukan perampasan karavan pedagang, mengawasi pembunuhan massal kaum Yahudi, bahkan memperbolehkan pengambilan wanita istri dan anak para korban kalah perang untuk dijadikan budak dan selir. Untuk hal ini, kalau Hitler hidup dijaman itu, mungkin Hitler akan mengagumi Muhammad.

Setelah tahu bahwa Kekristenan tidak memotivasi Hitler ataupun membenarkannya, dan juga orang Kristen dan Yahudi terbukti menjadi korbannya (terutama mereka yang hidup berpegang pada imannya), tentu saja membingungkan kita bahwa masih ada yg menyatakan hal yang sebaliknya. Lagipula, apa yang didapat dari mempercayai kebohongan? Kapankan kenyamanan palsu menjadi lebih disukai daripada kebenaran sejati?

Sayangnya, inilah zaman malas berfikir. Meskipun informasi berlimpah ruah untuk menyeimbangkan pendapat dengan bukti, banyak yang memilih menggunakan paradigma untuk memfilter kebenaran, membolehkan seseorang untuk berkubang dalam opini dan aphorisme yang dijahit menjadi pra konsepsi mentah.

Apakah kantor pos di Amerika mengecap “penjahat Kristen” kalau ia terlahir sebagai kristen? Jika seseorang yang secara mental sakit menembaki sebuah masjid di Yaman sebelum menembak dirinya sendiri, apakah itu dimotivasi oleh Islam? Siapa yang sering melakukan asumsi irasional bahwa setiap perbuatan kriminal dilakukan oleh beberapa penganut itu mesti dihubungkan dengan agamanya?

Ironisnya, mereka yang ingin membuat Kekristenan dihubungkan dengan Nazi, juga bersandar pada logika fanatik sama yang juga menumbuhkan  antisemitisme, sebuah pemikiran bahwa sebuah agama atau ras bertanggung jawab atas perbuatan beberapa individual.

Dalam kasus ini ajaran kekristenan berkontradiksi dengan Nazi. Yesus mengasihi orang Yahudi dan hidup diantara mereka. Tidak seperti Muhamad, Yesus tidak pernah menyetujui kekerasan.

Hitler bukanlah seorang yang religius. Jumlah terbanyak dari korbannya adalah orang Kristen. Tidak ada bukti dia tertarik meniru Kristus ataupun untuk melakukan syiar agama, tapi ada banyak bukti ia memilih kebalikannya.

Kontrasnya, teroris Islam selalu mengutip dari Al Quran dan memuji Tuhannya ketika mereka memenggal leher kafir. Menegakkan syariat Islam jelas sekali memotivasi mereka. Ini sama sekali tidak sama seperti kasus Jerman menginvasi Polandia atau ketika Irak menginvasi Kuwait.

Janganlah mudah terkecoh dan terbujuk oleh superioritas moral sebagai hadiah. Catatan sejarah jelas, dan logika berjalan. Kekristenan tidak memotivasi atau menyetujui Hitler.

Selama beberapa tahun ini, banyak pemimpin Kristen meminta maaf kepada bangsa Yahudi oleh karena Holocaust. Ini bukanlah kasus pertanggungjawaban. Ini adalah akibat orang kristen pada masa itu tidak melakukan semua hal yang dapat dan harus dilakukan untuk menghentikan Hitler. Meskipun pada waktu itu mereka tidak mengetahui kamar-kamar gas untuk membunuh, harusnya mereka lebih kuat melawan antisemitisme Hitler yang terang-terangan ditunjukannya.

Terjemahan dari tulisan >>disini<<





Bukan salah bunda mengandung

26 01 2010





Apakah Tuhan di Perjanjian Lama Berbeda dengan Tuhan dalam Perjanjian Baru?

4 12 2009

Mari Belajar Menjawab Mereka 5

Pertanyaan diatas mungkin pernah muncul, ketika kita membaca Alkitab Perjanjian Lama dan membandingkannya dengan Perjanjian Baru. Mengapa Tuhan dalam Perjanjian Lama terasa Tuhan yang penuh amarah sedangkan Tuhan dalam Perjanjian Baru begitu penuh kasih?. Disisi lain seringkali kita menjumpai saudara-saudara kita terkasih muslim “bertanya” dengan mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama untuk untuk menunjukan bahwa Alkitab memiliki ayat yang “menyetujui” kekerasan, pornografi, poligami, perang, perbudakan, pembunuhan, bahkan genosida. Bagaimana menjawab hal ini? Saya melihat kedua masalah dari kedua pihak yang berbeda ini memiliki akar yang sama.

Hal fundamental yang selalu dilupakan adalah membaca Alkitab tanpa melihat konteks atau latar belakang kitab itu ditulis. Main comot ayat lalu disodorkan mentah-mentah telanjang bulat lantas membuat interpretasi berdasarkan pikirannya sendiri, ini yang bukan hanya berbahaya buat orang lain, tapi tanpa sadar sudah mulai bunuh diri pelan-pelan. Yang paling sering terjadi adalah kitab Kidung Agung dicomot dan menyodorkannya sembari mengatakan “tuh Alkitabmu buku porno”. Betapa naifnya kita yang lahir dan dibesarkan dilingkungan kebaya yang tembus pandang sambil menonton baywatch lantas mengatakan “tuh kitabmu porno” tanpa mau mencoba memahami latar belakang budaya yang berbeda jarak ribuan kilometer dan waktu sampai 3 milenia. Salah satu kejadian lain, pernah terjadi diblog ini juga, seorang muslim main comot Yehezkiel 23 sambil mem-bold semua kata-kata yang vulgar, tanpa mau membaca ayat-ayat akhir (pun masih dalam kutipan yang sama!) yang mengutuk semua tindakan perzinahan itu. Banyak contoh lain yang kita temui, yang sebenarnya sudah memiliki penjelasan didepan mata kalau saja memang berniat mencari kebenaran bukan pembenaran untuk menjatuhkan pihak lain.

Alkitab adalah wahyu progresif Tuhan melalui berbagai kejadian sejarah dan hubunganNya dengan manusia, tapi perlu diingat, Alkitab bukanlah ensiklopedia yang memuat semua blueprint untuk membuat utopia. Alangkah konyolnya jika ada orang mengambil sebuah puisi tentang perang dari 3500 th lalu, lantas membuatnya sebagai fakta persetujuan ilahi tentang pembantaian. Yang perlu kita garisbawahi, Alkitab mencatat hal ini bukan berarti menyetujuinya. Alkitab juga mencatat hukuman Tuhan dan akibat yang terjadi dari berbagai tindakan keji yang dilakukan umatnya tersebut.

Konteks atau latar belakang yang dimaksud diatas adalah, kebanyakan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama memaparkan perjalanan awal sebuah bangsa muda (Israel) pada level nasional, bukan pada level individual. Segala ancaman, gangguan terhadap sebuah bangsa muda dicatat didalamnya, dan hal ini termasuk perang, pembunuhan, poligami, genosida, perbudakan dan lain-lain. Tapi kenapa hanya hal itu yang disorot oleh saudara-saudara kita muslim? Dijadikan “fakta” seakan-akan Alkitab menyetujui hal-hal mengerikan tersebut? Kenapa bukan hukuman atau akibat bagi mereka yang melakukan kekejian itu yang dicomot? Ataukah wahyu tentang MESIAS di Perjanjian Lama kalah seru dibanding “Alkitab menyetujui poligami”? Kita biarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada mereka yang mencari pembenaran, bukan kebenaran.

Alasan pertama mengapa Tuhan di Perjanjian Lama terasa begitu keras adalah hukum dalam Perjanjian Lama mendemonstrasikan tuntutan kekudusan dan kesempurnaan manusia jika ingin layak dihadapan Allah. Tentu saja standar yang tidak mungkin dicapai manusia. Maka, singkat kata, “misteri” itu terbuka oleh Kasih KaruniaNya, yaitu dengan menebus sendiri dosa-dosa hambaNya. Alasan kedua, masa pada waktu Perjanjian Lama adalah masa yang sangat sulit bagi bangsa Israel, dimana begitu banyak musuh yang ingin menghapus bangsa ini dari muka bumi, yang tidak hanya sporadis, tapi juga sistematis konstan ingin menghancurkan nubuatan kedatangan Sang Mesias. Maka Tuhan menurunkan hukum-hukum yang pada waktu itu, konsisten dengan kultur yang ada, untuk menyakinkan kelangsungan hidup bangsa Israel, untuk mempertahankan tatanan sosial yang baru terbentuk. Berbeda dengan konteks Perjanjian Baru, dimana bangsa itu sudah lahir, besar, bahkan sedang dalam masa penjajahan Romawi, maka isinya banyak berbicara pada level individual dan kelompok kecil.

Kalau kita membaca Alkitab Perjanjian Lama & Baru secara obyektif, jujur dan adil, akan terlihat jelas bahwa Tuhan dalam Perjanjian Lama sama dengan Tuhan dalam Perjanjian Baru :
1. Sama-sama penuh Kasih dan Pengampunan: Yer 31& 32; Keluaran 34 : 6-7; Hos 3; Mzm 10, 145,146; Yehezkiel 18 dll bandingkan : Yoh 3:16; Roma 5:8

2. Sama-sama menghukum pendosa: Kej 19 dll, bandingkan Kis 5; Mat 13

3. Sama-sama Tuhan yang mengajarkan “Kasihilah Musuhmu”: Imamat 19:18; Keluaran 23:4-5 bandingkan Matius 5 : 44

4. dan seterusnya

Ini memang bukan eksperimen akademis, tetapi ketiklah kata “kasih” dan “murka” pada Sabda.org pada menu Perjanjian Lama dan bandingkanlah jumlah hasil pencarian pada Perjanjian Baru. Anda yang skeptis mungkin akan berkata : “jumlah halaman dan kata dalam kedua testamen itu kan berbeda hampir 3 kali lipatnya”. Itu benar sekali, tetapi mengapa pemikiran itu tidak diterapkan ketika bertanya “mengapa Tuhan Perjanjian Lama terasa lebih galak dibandingkan Perjanjian Baru yang penuh kasih”?

Disisi lain, banyak saudara-saudara kita terkasih muslim yang tidak tahu kalau Perjanjian Lama terdiri dari kumpulan kitab-kitab catatan sejarah, puisi, dokumen kependudukan, dokumen legal, kumpulan lagu-lagu bahkan sampai surat cinta (seperti Kidung Agung diatas). Adalah tugas kita yang menjelaskan hal ini kepada mereka, kalau tidak bukannya pencerahan yang mereka dapatkan tapi hanya menjadi bulan-bulanan.

Yesus banyak sekali memberikan petunjuk bahwa Perjanjian Baru telah datang menggenapkan yang Perjanjian Lama:
Matius 5
17-18 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Perhatikan perkataan Yesus tentang betapa serius memenuhi standar Tuhan agar manusia layak dihadapan Allah:

19-20 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Ayat-ayat selanjutnya dengan jelas Yesus membawa “reformasi” Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru:

(21) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.(22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

(27) Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.(28) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

(31) Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.(32) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah

(38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.(39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dan seterusnya, Yesus banyak sekali memberikan petunjuk bahwa era Perjanjian Lama telah “berakhir”, hal ini dipertegas dalam perjamuan terakhirNya:
Lukas 22: 19-20
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

Saya menggambarkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian baru dari kejadian ini : suatu ketika lae saya mengalami kecelakaan dan tulangnya patah (ini tulang dalam arti bhs Indonesia :P), apa yang dilalukan dokter adalah merujuk kepada hasil foto rontgen dan interpretasi dari dokter ahli rontgen. Intinya, dokter itu tidak bisa melakukan diagnosa dan melakukan tindakan kepada lae saya tanpa didasari foto rontgen dan analisa dokter rontgen. Mungkin seperti inilah kita memandang Perjanjian Lama, seperti sebuah hasil foto rontgen.

Kiranya jembatan analogi yang sama dapat diterapkan disini. Kita bisa melihat sebuah bangsa pada level nasional, tidak layak berdiri dihadapan Allah atau mencapai surga jika hanya didasari usaha sendiri melalui hukum agama yang ketat, yang menuntut dipenuhinya kewajiban agamawi yang hanya melahirkan pemberontakan dan kekerasan dimana agama menjadi ritualitas budaya belaka bukan lagi pencarian Tuhan. Perjanjian lama penuh dengan hal seperti ini, hukum rajam, berkurban untuk membayar dosa, aturan makanan halal-haram, pengaturan zakat perpuluhan, sunat, rampasan perang, dll, dlsb. Dengan melihat melalui “foto rontgen” Perjanjian Lama, sebuah bangsa yang menuntut “mata ganti mata, nyawa ganti nyawa” akan kehabisan darah dan dengan sendirinya mati.

Sekarang Tuhan sudah membukakan sebuah hasil diagnosa dan memberikan resep mutakhir dan paling mudah: pengampunan itu diberikan melalui penebusan dosa yang dilakukanNya sendiri. Inipun masih diberikan ekstra bonus justru pada hal yang paling penting: pilihan menerima atau tidak, ada ditangan kita.

Bacaan lebih lanjut:
www.sarapanpagi.org





Psst! Di Alkitab nabi-nabi pada mabok loh!

9 09 2009

Mari Belajar Menjawab Mereka 4

Menyambung tulisan-tulisan sebelumnya, kali ini saya mencoba menulis tentang pandangan muslim terhadap perilaku nabi-nabi di Alkitab Perjanjian Lama.

Kita pasti pernah menemukan tulisan atau perkataan atau cara pandang saudara-saudara kita terkasih muslim yang negatif terutama jika mereka mengomentari Alkitab tentang nabi-nabi dari sudut pandang mereka. Ini menarik karena memberikan pelajaran betapa berbeda agama Kristen dengan Islam.

Banyak tanggapan negatif dari saudara terkasih muslim ketika Alkitab mencatat bahwa Salomo (Sulaiman) memiliki ratusan istri dan gundik, atau Lot dibuat mabuk oleh anak perempuannnya lalu meniduri mereka, Harun yang membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya, atau nabi Nuh setelah air bah lalu mabuk minuman, atau betapa kejinya nabi Daud yang dicatat meniduri istri panglimanya sendiri lalu mengirimkannya ke baris depan perang agar mati dan banyak contoh-contoh lain yang ditulis Alkitab.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, Alkitab mencatat kejadian-kejadian ini bukan untuk ditiru perilaku buruknya dan Alkitab selalu mencatat akibat dari perbuatan buruk itu.

Dari beberapa komentar muslim tentang hal ini beberapa benar, beberapa lainnya salah. Hal-hal detail mengenail hal ini dapat dibahas nanti, tapi ada hal lain yang lebih baik untuk ditarik pelajaran, yaitu Kekristenan memiliki cara pandang berbeda tentang nabi.

Alkitab mencatat bahwa para nabi pernah melakukan dosa, tetapi TUHAN tetap memilih mereka walaupun berdosa. Sedangkan Alquran memandang: “Nabi itu suci tidak berdosa karena sudah dipilih Allah maka dijaga Allah dari dosa”. Pernyataan ini memang ada benarnya. Cobalah kita bayangkan, masa kita melarang orang berjudi padahal kita sendiri tukang main judi? Jadi tidak masalah kan?

Mari kita mencoba berfikir kenapa hal ini menurutku tidak menjadi masalah:

Alquran mengatakan kepada pengikutnya agar tidak memiliki lebih dari 4 istri.

Muhammad memiliki minimal 11 istri.

Tidak ada masalah kan?

Tentu saja, muslim terus menghormati dan mengikuti beliau dan boleh memiliki 4 istri. Lantas kenapa contoh-contoh seperti Salomo, Lot, Nuh, Harun atau Daud diatas menjadi masalah? Tentu tidak menjadi masalah bukan?

Kenapa tidak mungkin orang-orang yang telah berdosa menjadi nabi? Asalkan mereka telah mengakui kesalahan mereka dan bertobat. Yang menjadi masalah adalah jika berkotbah tentang dosa dan pada saat yang sama tetap melakukan dosa dan tetap menganggapnya bukan perkara besar. Hal ini tentu saja merupakan kemunafikan dan merusak kredibiltas nabi itu.

Tapi ketika mereka bertobat dan menyesali apa yang telah mereka perbuat, tentu saja tidak menghalangi mereka dipilih Tuhan menjadi nabi.

Saya pribadi bisa mengerti mengapa muslim punya pikiran negatif dengan ayat-ayat Alkitab tentang nabi-nabi yang berbuat dosa, karena memang itulah yang diajarkan kepada mereka. Tetapi Alquran nyata sekali berbeda dengan Alkitab, dan kita harus mencoba saling mengerti, mulai dari diri kita sendiri mencoba memahami mengapa cara pandang muslim begitu negatif.

Tidak ada yang memalukan mengatakan kebenaran. Orang bilang : “Kebenaran kadang menyakitkan”. Dan Alkitab adalah buku jujur yang mencatat benar-salah, baik-buruknya para nabi. Alkitab bahkan membeberkan borok-borok dari para pahlawannya sendiri. Maka dari itu saya dapat mempercayainya. Jujur.