Happy Ending

25 05 2010





Sudah Tradisi?

20 05 2010





Hitler, Kristen Atau Bukan ?

5 05 2010

Mari Belajar Menjawab Mereka 6

Bagaimana dengan Hitler, bukankah dia Kristen?
Pertanyaan ini dilontarkan dengan bermacam variasi, kadang-kadang oleh orang barat yang sering negatif dan melihat semua agama sama rata, dan seringkali oleh muslim yang berfikir mereka telah menemukan sebuah cara menjawab dan untuk mengecilkan kekerasan yang dilakukan oleh radikal muslim. Logika yang sudah terpojok ini, pada pokoknya ingin menempatkan Kekristenan sebagai yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan Hitler, dikarenakan Jerman secara demografi adalah negeri Kristen.

Pikiran pendek ini mengakar di benak mereka yang oleh semangat antikristennya membiaskan objektifitas, karena hal tersebut tidak hanya secara logika inkosisten tapi juga ada ketidakakuratan historis.

Adalah benar bahwa Jerman sebuah negara berpenduduk kebanyakan Kristen, sama seperti semua bangsa di planet ini diidentifikasi menurut agamanya, tanpa memperdulikan apakah mayoritas penduduknya hidup benar menurut ajaran imannya. Hal ini sulit untuk diberikan penilaian kalau dilakukan oleh kebanyakan penduduk ataupun pemimpin yang terpilih.

Jadinya, kepemimpinan dan arah dari sebuah negara seringkali bertolak belakang dengan agama yang sebagian besar dianut. Ketika diktator Syria, Hafez al Assad membantai ribuan kaum fundamentalis di tahun 1982, dia melakukannya untuk tujuan sekuler mempertahankan kekuasaan. Atau Saddam Husein yang melakukan kebrutalan terhadap lawan-lawan politik dan keluarganya. Dan seperti semua pemimpin-pemimpin negara Arab dari zaman ke zaman, mereka bersembunyi dibalik jubah agama untuk membenarkan perbuatannya.

Jadi, kalau Hitler mengutip Alkitab, itu bukan berarti tanda dari iman dirinya dan bukan juga sebagai indikasi pembenaran dari agamanya. Tidak ada alasan lain untuk menjelaskannya, kecuali hal itu dilakukan oleh banyak pemimpin hanya untuk menarik dukungan pada saat kritis walaupun hal itu inkosisten dengan ajaran agama.

Maka pertanyaannya menjadi lebih mendasar : Apa yang memotivasi Hitler dan apakah perbuatannya dibenarkan Alkitab?

Pertanyaan ini jarang sekali ditelaah oleh mereka yang membuat tuduhan bahwa Holocaust adalah kristiani, biasanya mereka melakukannya dengan gaya “hit & run”, beri pertanyaan lalu kabur tanpa mau tahu jawabannya. Hal ini terjadi karena orang percaya apa yang mau mereka percaya, bukan apa yang sebenarnya menjadi fakta. Tidak ada gunanya membuktikan apakah sebuah kepercayaan itu benar atau salah selama kepercayaan itu diterima karena melayani kepentingan pribadi dan menyediakan kenyamanan. Daya tarik lain adalah menggunakan klise (tak perduli seberapa cetek) sering untuk melawan penyelidikan intelektual dimana memerlukan usaha yang lebih untuk melakukannya.

Sebagai contoh betapa berbahayanya kemalasan berfikir seperti ini, kita sering menemukan orang yang sama yang menyatakan bahwa semua Nazi adalah kristen, juga dengan mudahnya menyatakan bahwa tentara Amerika di Irak juga “kristen” (biasanya dengan memakai kata “barat” red). Mungkin mereka masih buta sejarah bahwa Amerika dan sekutulah yang menghancurkan Nazi, tapi tampaknya “keterangan” ini kurang menyinari pikiran mereka yang kontradiktif itu.

Muslim yang menyatakan hal diatas sering “lupa” bahwa Hitler diterima secara baik di dunia Islam, dimana warisannya untuk membunuh Yahudi masih dipelihara hingga kini. Dan, meskipun buku Mein Kampf menyediakan sokoguru filosofi untuk pembantaian yang terjadi, sebenarnya tidak pernah memerintahkan secara vulgar pembunuhan nonmuslim seperti dalam Al Quran (silahkan klik disini).

Untungnya, untuk mereka yang mau sedikit menggali, tidak perlu lama untuk menyadari bahwa bukannya dimotivasi Kekristenan, Hitler memang hanya Nazi. Seluruh filosofinya dibangun atas dasar nasionalisme Jerman dan supremasi bangsa Arya yang menjadi dasar partai nasional-sosialisnya. Dalam kata-katanya sendiri : “Seseorang tidak bisa seorang Kristen dan Jerman, kamu tidak bisa menjadi kedua-duanya”.

Tentu saja, iman Kristen didasarkan Perjanjian Baru yang dengan mudah bisa digunakan untuk membenarkan pasifisme, tapi tidak untuk pembunuhan massal. Tidak ada ayat-ayat yang memerintahkan pembunuhan bagi mereka yang menolak ataupun mengarahkan penaklukan dunia melalui pedang seperti dalam Alquran. Kebalikannya, kita disuruh untuk “berikan pipi kiri kalau ditampar pipi kanan” atau untuk “berkati mereka yang mengutuk kamu” dan diperingati “mereka yang hidup dari pedang akan mati oleh pedang”.

Perang Dunia II sangat sulit untuk dikatakan sebagai cara menyebarkan Kekristenan (karena Hitlerlah yang menginvasi sebagian besar “negara kristen”). Perang tersebut adalah hasil dari pencarian kekuasaan politik dan ekonomi oleh Jerman dan Jepang, motif yang sama yang mendasari banyak perang. Kejahatan Nazi membunuh Yahudi adalah murni rasial, seperti Hitler sendiri katakan di Mein Kampf bahwa Yahudi adalah sebuah ras bukan agama.

Mereka yang tetap beriman pada Kekristenan masuk kamp konsentrasi, selama PD II, komunitas terbesar dari pendeta Kristen ditemukan dalam kamp kematian ini. Nazi mendaftarkan “Geistliche” (pastor, pendeta dan pelayan gereja) bersama-sama “Juden” (Yahudi) dan “Homosexueller” (homoseks) dalam formulir kamp konsentrasi untuk membedakan tahanan.

Meskipun secara umum atmosfer Kekristenan di Jerman membatasi komentar sang Fuehrer tentang agama (dan perlunya untuk melakukan perhitungan untuk menutupi keberadaan kamar gas dari publik Jerman), dia cukup jelas menyatakan pemikirannya : “Melalui kaum petanilah kita bisa menghancurkan Kekristenan, karena di merekalah (kaum petani, red) berakar agama sejati dalam alam dan darah”.

Sangatlah mudah mengisolasi beberapa pernyataan politik Hitler terutama apabila seseorang punya agenda tersembunyi, tetapi seseorang menampakkan keasliannya dari perbuatannya dan perbuatan Hitler membuktikan bahwa ia memang seorang pagan dimana visinya tentang masa depan tidak memasukan kekristenan sebagai agenda.

Ketika Nazi menyerang Polandia di 1939, para rohaniawan Kristen diburu sama seperti mereka memburu Yahudi. Pada tahun 1940, hanya 3% yang tersisa. Ribuan dibantai, termasuk pelayan gereja dan para suster. Mereka yang tersisa dilarang untuk menginjili, memiliki rumah atau berkotbah tanpa sensor. Dalam kata lain, mirip konsep dhimi dalam Islam.

Pada penasehat terdekatnya, Hitler mencaci maki Kekristenan sebagai “penemuan orang Yahudi”, sebuah produk “sakit otak” dan “tak bernyali”. Dia juga mengatakan Kekristenan sebagai “kemunduran terburuk yang pernah terjadi pada umat manusia”.

Hal yang dituduhkan diatas terhadap Kekristenan karena apa yang dilakukan Nazi tidak berkurang oleh bukti bahwa hampir semua orang Eropa yang terlibat memberi tempat perlindungan bagi orang Yahudi, merupakan penganut Kristen taat. Yesus adalah Manusia yang tidak pernah melukai orang dan tidak setuju pada kekerasan.

Kontrasnya, Muhamad merupakan pemimpin militer yang melakukan perampasan karavan pedagang, mengawasi pembunuhan massal kaum Yahudi, bahkan memperbolehkan pengambilan wanita istri dan anak para korban kalah perang untuk dijadikan budak dan selir. Untuk hal ini, kalau Hitler hidup dijaman itu, mungkin Hitler akan mengagumi Muhammad.

Setelah tahu bahwa Kekristenan tidak memotivasi Hitler ataupun membenarkannya, dan juga orang Kristen dan Yahudi terbukti menjadi korbannya (terutama mereka yang hidup berpegang pada imannya), tentu saja membingungkan kita bahwa masih ada yg menyatakan hal yang sebaliknya. Lagipula, apa yang didapat dari mempercayai kebohongan? Kapankan kenyamanan palsu menjadi lebih disukai daripada kebenaran sejati?

Sayangnya, inilah zaman malas berfikir. Meskipun informasi berlimpah ruah untuk menyeimbangkan pendapat dengan bukti, banyak yang memilih menggunakan paradigma untuk memfilter kebenaran, membolehkan seseorang untuk berkubang dalam opini dan aphorisme yang dijahit menjadi pra konsepsi mentah.

Apakah kantor pos di Amerika mengecap “penjahat Kristen” kalau ia terlahir sebagai kristen? Jika seseorang yang secara mental sakit menembaki sebuah masjid di Yaman sebelum menembak dirinya sendiri, apakah itu dimotivasi oleh Islam? Siapa yang sering melakukan asumsi irasional bahwa setiap perbuatan kriminal dilakukan oleh beberapa penganut itu mesti dihubungkan dengan agamanya?

Ironisnya, mereka yang ingin membuat Kekristenan dihubungkan dengan Nazi, juga bersandar pada logika fanatik sama yang juga menumbuhkan  antisemitisme, sebuah pemikiran bahwa sebuah agama atau ras bertanggung jawab atas perbuatan beberapa individual.

Dalam kasus ini ajaran kekristenan berkontradiksi dengan Nazi. Yesus mengasihi orang Yahudi dan hidup diantara mereka. Tidak seperti Muhamad, Yesus tidak pernah menyetujui kekerasan.

Hitler bukanlah seorang yang religius. Jumlah terbanyak dari korbannya adalah orang Kristen. Tidak ada bukti dia tertarik meniru Kristus ataupun untuk melakukan syiar agama, tapi ada banyak bukti ia memilih kebalikannya.

Kontrasnya, teroris Islam selalu mengutip dari Al Quran dan memuji Tuhannya ketika mereka memenggal leher kafir. Menegakkan syariat Islam jelas sekali memotivasi mereka. Ini sama sekali tidak sama seperti kasus Jerman menginvasi Polandia atau ketika Irak menginvasi Kuwait.

Janganlah mudah terkecoh dan terbujuk oleh superioritas moral sebagai hadiah. Catatan sejarah jelas, dan logika berjalan. Kekristenan tidak memotivasi atau menyetujui Hitler.

Selama beberapa tahun ini, banyak pemimpin Kristen meminta maaf kepada bangsa Yahudi oleh karena Holocaust. Ini bukanlah kasus pertanggungjawaban. Ini adalah akibat orang kristen pada masa itu tidak melakukan semua hal yang dapat dan harus dilakukan untuk menghentikan Hitler. Meskipun pada waktu itu mereka tidak mengetahui kamar-kamar gas untuk membunuh, harusnya mereka lebih kuat melawan antisemitisme Hitler yang terang-terangan ditunjukannya.

Terjemahan dari tulisan >>disini<<