Bukan salah bunda mengandung

26 01 2010





Dua Gereja Dibakar Di Sibuhuan, Padang Lawas

25 01 2010

Kejadiannya sama dengan kejadian lain, mempermasalahkan ijin, yang walaupun di kampung kami tidak pernah mempermasalahkan izin mendirikan masjid. Tapi yang jadi perhatian saya : Mengapa sehabis shalat Jumat massa bergerak? Apa yang menyebabkan mereka terpanggil untuk membakar rumah ibadah agama lain? Apa kini masjid menjadi tempat mengumpulkan massa dan memprovokasi mereka membakar gereja setelah sujud sembahyang dan mengucap syukur? Entah apa yang ada dipikiran mereka, semoga saja kejadian ini tidak memicu kejadian lain, semoga.
====================================================
Sibuhuan (SIB)

Dua rumah tempat beribadah yaitu gereja HKBP dan gereja GPdI serta rumah dinas Pendeta di Sibuhuan, Kabupaten Padang Lawas (Palas) hangus dibakar massa, Jumat (22/1) sekitar pukul 14.15 WIB. Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa, namun kerugian materil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Informasi yang berhasil dihimpun SIB, siang itu ratusan massa secara serentak melakukan aksi pembakaran gereja HKBP. Usai melakukan aksinya massa bergerak dengan menggunakan kendaraan bermotor ke GPdI yang jaraknya ratusan meter dari gereja HKBP tersebut.

Massa tersebut juga melakukan aksinya yang sama yaitu, membakar gereja GPdI. Alasan pembakaran, menurut massa bahwa kedua rumah tempat beribadah tersebut belum memiliki izin. Informasi diperoleh SIB dari Sibuhuan, Jumat malam sedang diadakan rapat Muspida untuk membahas pembakaran dua rumah ibadah tersebut. “Hasilnya belum tau, karena baru mulai mau rapat,” ujar sumber tersebut.

Bupati Jamin Tidak Ada Lagi Pembakaran

Bupati Padang Lawas (Palas) Basyrah Lubis SH mengatakan bahwa pemerintah akan fasilitasi pemberian izin dalam mendirikan rumah ibadah dalam menyahuti aspirasi yang berkembang di wilayah itu pasca pembakaran rumah tempat beribadah jemaat HKBP dan rumah dinas Pendeta, di Lingkungan VI Kelurahan Sibuhuan, Jumat (22/1).“Kita sudah rapat Muspida dihadiri Dandim 0212/TS Letkol Inf Togar Pangaribuan, Kapolres Tapsel AKBP Subandiya SH MH, Kakandepag, tokoh masyarakat dan udangan lainnya dan telah bahas secara rinci permasalahan tersebut serta bagaimana antisifasi serta solusinya, ujar Bupati yang dihubungi wartawan SIB melalui telepon selular, Sabtu (23/1).
Penjelasan Bupati, bahwa ketika itu sehabis sholat Jumat (22/1) secara spontan warga yang jumlahnya hampir seribu orang secara bersama-sama mendatangi rumah tempat beribadah tersebut yang jaraknya ratusan meter dan kemudian membakarnya. Selanjutnya massa bergerak ke rumah dinas Pendeta di sana dan juga membakarnya. Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa, namun sempat membuat kepanikan.
Kondisi saat ini, kata Bupati sudah membaik dan kondusif sehingga diharapkan agar masyarakat selalu menjaganya agar jangan sampai menimbulkan hal- hal negatif. “ Situasinya sudah kondusif , warga jangan takut dan kita jamin tidak akan ada lagi keributan seperti itu. Bagi warga yang sempat mengungsi agar kembali ke tempat semula dan dapat bekerja dengan baik,” ujar Bupati Basyrah Lubis. Dandim 0212/TS Letkol Inf Togar Pangaribuan SIP dikonfirmasi melalui telepon selularnya mengatakan bahwa rapat Muspida menyepakati agar segera dibentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) agar izin pendirian rumah ibadah segera diproses, lokasi pendirian rumah ibadah (gereja) akan dicarikan tempat yang cocok sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
Pemda bersama aparat keamanan bekerja sama menjaga agar jangan sampai terjadi lagi permasalahan yang menyangkut rumah ibadah. “Muspida serta tokoh masyarakat sudah sepakat soal itu dan akan mengawalnya dengan baik,” ujar Dandim.
Kapolres Tapsel AKBP Subandriya SH MH dihubungi SIB mengatakan, bahwa pihaknya masih sedang rapat melanjutkan pembahasan permasalahan pembakaran rumah tempat beribadah tersebut. “Kami masih rapat lagi dan penjelasan saya sesuai dengan yang dijelaskan pak Dandim dan pak Bupati tadi,” ujarnya singkat. Sementara itu Praeses HKBP Distrik I Tapsel Sumbar Pdt Marolop Sinaga MTh dihubungi secara terpisah mengatakan. Dari 53 Kepala Keluarga atau 272 jiwa warga jemaat HKBP Sibuhuan Resort Sion Nauli Ujungbatu Sosa banyak mengungsi karena takut dan trauma. Diharapkan agar Pemkab Palas dan aparat keamanan dapat menjamin kekondusifan daerah tersebut sehingga warga jemaat dapat beribadah dengan aman dan damai.
Sekretaris Diakonia HKBP Distrik I Tapsel Sumbar yang juga anggota FKUB Kota Padangsidimpuan Sahatua Sinaga mengharapkan agar Pemkab Padang Lawas bertanggung jawab untuk menjamin pelaksanaan beribadah umat beragama. Hidup rukun berlaku bagi semua warga negara di NKRI, untuk itu kami menghimbau pemerintah agar segera membangun kembali gereja tersebut. Karena pembangunan rumah ibadah merupakan juga tanggung jawab pemerintah. (Tim/T7/T8/d) Sumber : Harian SIB





Lagi di Bekasi Gereja Didemo

15 01 2010

BEKASI (Pos Kota)-Ratusan warga Kampung Jejalen Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, unjuk rasa di depan bangunan tempat ibadah di RT 01/09, Minggu pagi sekitar pukul 08:00.

Aksi ini sempat membuat jemaat Gereja HKBP Filadelfia, kaget saat akan mengikuti kebaktian. Beruntung aparat Polres Metro Bekasi Kabupaten yang dipimpin Kombes Heri Wibowo, Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri Cikarang, Dandim Bekasi, Camat Bekasi Utara Bekasi segera datang.

“Kami minta kegiatan dihentikan karena belum ada izin dari warga dan pemerintah,” ujar Somad, satu warga yang berharap pengelola HKBP Filadelfia memahami. Aparat bersama tokoh masyarakat dan Pemkab Bekasi mencoba mencari jalan tengah namun tidak berhasil.

Akhirnya atas saran Kapolres, ibadah jemaat dipindahkan ke aula Desa Jejalen Jaya dengan pengawalan pasukan polisi. Hingga siang tadi polisi masih berjaga-jaga di lokasi Desa Jejale n Jaya.

Sebelumnya di Harapan Indah gereja malah dibakar. (saban/B)

Sumber : Poskota

=======================================================

Tadinya saya terpikir, bagaimana kalau semua masjid di kampung saya, dan daerah-daerah lain yang mayoritas non muslim seperti Papua, Bali, Pedalaman Kalimantan, NTT, Sulawesi Tengah & Utara, Maluku dll menerapkan peraturan itu, bahwa setiap masjid harus meminta ijin penduduk setempat? Saya jadi teringat perkataan Tuhan Yesus :

“Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” (Matius 26:52)

Membalas darah dengan darah, hanya membuat saya sama dengan mereka. Lantas teringat pula, peringatan Tuhan Yesus sendiri di Akhir Zaman :

“Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,

dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.

Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” ( Mat 24 : 8 – 14)





Gak Nyambung

12 01 2010





3 Gereja di Malaysia Dibakar

11 01 2010

Konflik Pemakaian Kata ‘Allah’

Terus terang saya tidak mengerti kasus ini. Alquran menyatakan kalau Islam adalah salah satu agama samawi dan agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya. Ini bukti bahwa Islam mengaku menyembah Tuhan yang sama dengan agama Yahudi dan Kristen (terlepas dari penolakan masing-masing agama), lantas kenapa dilarang memakai kata “Allah”? Entah sampai kapan mereka terbuka pikirannya, borsik ma!

Kuala Lumpur – Tiga gereja di Malaysia dibakar oleh sekelompok orang. Kepolisian Malaysia saat ini tengah menyelidiki tiga kasus pembakaran gereja di Klang Valley pada Jumat, 8 Januari pagi waktu setempat.


Serangan tersebut menyebabkan gereja-gereja itu mengalami kerusakan. Tak ada korban dalam insiden tersebut.

Akibat aksi pembakaran tersebut, personel polisi dikerahkan untuk berpatroli di sekitar gereja-gereja. Demikian disampaikan Inspektur Jenderal Kepolisian Malaysia Tan Sri Musa Hassan.

“Personel polisi juga akan berpatroli di gereja-gereja seluruh negeri, khususnya di Klang Valley, untuk mencegah insiden-insiden buruk,” ujar petinggi kepolisian negeri jiran itu seperti dilansir harian Malaysia, The Star, Jumat (8/1/2010).

Ketiga gereja yang dibakar itu adalah Metro Tabernacle Church di Desa Melawati, gereja Assumption Church di Jalan Templer dan gereja Life Tabernacle Church, keduanya di Petaling Jaya.

Serangan terhadap gereja-gereja tersebut terjadi menjelang rencana aksi protes oleh kaum muslim pada hari ini. Mereka akan memprotes putusan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur yang menolak larangan bagi warga nonmuslim menggunakan kata “Allah” dalam literatur mereka. Larangan tersebut telah berlangsung selama 3 tahun.

Putusan pengadilan pada 31 Desember 2009 tersebut telah menimbulkan kemarahan banyak umat muslim di Malaysia. Komentar-komentar bernada kebencian dan ancaman terhadap umat Kristen banyak diposting di internet. Namun ini kali pertama kontroversi tersebut berubah menjadi destruktif dengan serangan terhadap gereja-gereja.

Sumber





Amuk Massa Porak – Porandakan Gereja Katolik Santo Albertus

11 01 2010

BEKASI– Massa yang terdiri dari ratusan orang mulai dari anak-anak hingga orangtua termasuk ibu-ibu menyambangi Gereja Katolik Santo Albertus, Harapan Indah kemudian merusak serta membakar fasilitas gereja.

Massa merusak Gereja Santo Albertus yang masih dalam proses pembangunan di Jalan Boulevard Raya Kav 23 Kompleks Harapan Indah, Bekasi Barat, Jawa Barat pada Kamis malam (17/12/2009).

Sekitar pukul 22.30 massa yang terdiri dari ratusan orang terlebih dulu berkumpul di sekitar Patung Tiga Mojang yang letaknya sekitar 1,5 km dari Gereja dan baru mulai bergerak pukul 22.45. Begitulah penuturan Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja St Albertus, Kristina Maria Rantetana, seperti dikutip Kompas.com pada Jumat (18/12).

“Tidak ada yang orasi. Mereka semua riang, ketawa-ketawa. Enggak ada curiga sama sekali,” kata Kristina.

Lanjutnya, tak lama kemudian, massa bergerak dengan kendaraan masing-masing, melewati Polsek Medan Satria yang jaraknya hanya 500 meter dari Gereja. “Saya ikutin terus massa. Mereka terus berhenti di sekitar Gereja. Tiba-tiba langsung turun dari kendaraan lalu melempari Gereja dengan batu,” tukasnya.

“Mereka teriak-teriak ‘hancurkan..hancurkan….’ Ibu-ibu bawa anak-anak ikutan melempar. Terus mereka masuk ke dalam Gereja lalu mulai membakar. Saya langsung lapor ke Polsek. Beberapa polisi langsung ke Gereja tapi enggak sanggup hadapi massa,” paparnya.

Massa kemudian merusak dan membakar kantor kontraktor yang terletak di samping gereja. Tidak puas, bahkan mereka juga menghancurkan genteng, marmer, ubin, mencabut beberapa pohon, dan memecahkan lampu yang telah terpasang di dalam Gereja.

Kristina Maria R yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menko Polhukam menjelaskan, “Gereja ini sudah mendapatkan izin pembangunan dan tiang pancang pertamanya sudah sejak 11 Mei 2008.” Imbuhnya, aparat mulai dari Danrem hingga Kapolres Bekasi telah menjamin keamanan bagi kegiatan ibadah ataupun acara penyambutan Natal di gereja ini.

Aksi amuk massa berhasil dihentikan sekitar pukul 24.00, setelah ratusan polisi dari Polres Metro Bekasi tiba di lokasi. Tidak ada satu pun petugas yang bersedia dimintai keterangan prihal peristiwa tersebut.

Polisi yang mendapatkan laporan massa berasal dari Kampung Tarumajaya dan Babelan sempat memasang police line di sekitar gereja pada Kamis malam kemudian mencabutnya kembali pada Jumat pagi. Beberapa orang yang dicurigai sebagai otak aksi perusakan gereja juga telah diringkus.

Sumber





Mana curhatnya?

8 01 2010