Setiap Tahun Itu Baik

30 12 2009





GPS Ilahi

23 12 2009





Anak Pintar

23 12 2009





Pindah Kampung

17 12 2009





Kabinet Curhat Bersatu

17 12 2009





Pastor Rantinus, Pejuang HAM Tapteng, ditetapkan Polisi jadi Tersangka

17 12 2009

Tapteng (SIB)
Pastor Rantinus Manalu yang aktif memperjuangkan Hak Azasi Masyarakat (HAM) masyarakat Tapanuli Tengah (Tapteng) dipanggil polisi dalam kasus merambah dan membakar kawasan hutan register 47 Desa Purbatua Kecamatan Barus Utara, Tapanuli Tengah (Tapteng). Dalam pemanggilan itu, Pastor Rantinus telah ditetapkan sebagai tersangka.
Pastor Rantinus yang dikonfirmasi wartawan membenarkan pemanggilan dan penetapan dirinya sebagai tersangka. Dikatakannya, ia tidak takut menghadapi pemanggilan itu dan akan datang menghadap sesuai surat yang diterimanya dari Polda Sumut.
Namun, Ia meminta semua rakan-rekan pejuang HAM dan keadilan di Tapteng dan seluruh Indonesia bersatu padu dan tidak gentar sedikit pun terhadap pembungkaman suara keadilan. Hanya saja ia akan berkoordinasi dengan Uskup Agung Sibolga Mgr Ludovicus Manullang.
“Bapak-bapak dan rekan-rekan juang, kemarin Kamis (10/12) penangkapan atas diri saya tidak terjadi. Tetapi pagi ini, saya menerima surat panggilan dari Polda Sumut No Pol:S.Pgl/25.30/XII/2009/Dit Reskrim menetapkan saya selaku tersangka kasus merambah hutan register 47 Desa Purbatua Kec Barus Utara Tapteng. Saya dipanggil menghadap Kompol Amwizar, Rabu 16 Desember ini. Saya akan memenuhi panggilan tersebut. Mohon doa dan dukungan untuk tetap membela kebenaran dan keadilan demi masyarakat yang tertindas,” kata Pastor Rantinus.
Perlu diberitahukan, Pastor Rantinus Manalu merupakan ikon pejuang HAM di Tapteng. Pastor bersama rekan-rekannya yang bergabung dalam Forum Pembela Tanah Rakyat (FPTR) aktif dan tidak pernah takut memperjuangkan hak-hak warga masyarakat Tapteng yang haknya diserobot oleh tindakan sewenang-wenang.
Selama aktif di FPTR sejak beberapa tahun lalu, ratusan warga dari berbagai kecamatan di Tapteng mengadu kepadanya (berkas-berkas pengaduan lengkap) untuk diperjuangkan seperti pengaduan karena tanahnya diserobot, karena hak warga miskin seperti Raskin tidak diberi dan juga karena pupuk bersubsidi bantuan pemerintah tidak diterima warga.
Tidak tanggung-tanggung, Pastor pun berangkat ke Jakarta untuk mengadukan hak warga yang tertindas tersebut. Memimpin demonstrasi massa ke Kantor Bupati, DPRD dll. Bahkan karena pengaduannya, Komnas HAM sudah dua kali datang ke Tapteng. Namun karena aksinya memperjuangkan hak-hak masyarakat, tidak sedikit pula yang menanamkan kebencian padanya. (Hel/n)
Sumber : http://hariansib.com/?p=103036

======================================
Polisi Periksa Pastor Sibolga

Kamis, 17 Desember 2009 | 05:21 WIB

Medan, Kompas – Ditemani ratusan orang, termasuk Uskup Sibolga Mgr Ludovicus Manullang, Pastor Rantinus Manalu Pr, Ketua Komisi Justice and Peace Keuskupan Sibolga, Rabu (16/12), diperiksa aparat Kepolisian Daerah Sumatera Utara selama tujuh jam. Pemeriksaan terkait statusnya sebagai tersangka dugaan perambahan hutan Register 47 di Desa Parbatua dan Desa Hutaginjang di Kecamatan Barus Utara, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pemeriksaan dimulai pukul 11.30 dan berakhir pukul 19.30 WIB.

”Pastor ditanya seputar bantuan benih karet yang ia berikan kepada petani. Kami dari tim kuasa hukum merasa pemeriksaan polisi bukan dalam rangkaian penyidikan, tetapi penyelidikan. Karena itu, kami tidak mau menandatangani berkas pemeriksaan,” kata Diah Susilowati, salah satu anggota tim kuasa hukum tersangka—dari Kontras Sumut. Bersama Rantinus, diperiksa pula Robinson Tarihoran, petani yang menerima bibit bantuan dari Keuskupan Sibolga.

Sebelum pemeriksaan dilangsungkan, ratusan orang yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Tapteng berdemonstrasi di Polda Sumut. Mereka menuntut dilepaskannya Rantinus dan Robinson.

Massa yang terdiri dari delapan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Sumut dan melibatkan pastor, suster, calon pastor, serta biarawan/biarawati itu juga meminta polisi menuntaskan kasus-kasus tanah di Tapanuli Tengah yang dilakukan PT Nauli Sawit serta pelaku lainnya.

Saat berbicara di depan massa, Uskup Sibolga Mgr Ludovicus Manullang mengatakan datang ke Polda Sumut untuk mendampingi Rantinus yang adalah anak buahnya. Seluruh keputusan yang ada di Keuskupan Sibolga, termasuk pemberian bibit kepada petani di Kecamatan Barus Utara, terjadi atas izinnya.

Rantinus, dalam orasi di depan pendukungnya, mengatakan, apa yang ia lakukan semata-mata untuk membantu petani miskin di Tapanuli Tengah tanpa ada niat untuk memperkaya diri.

Pernyataan Rantinus didukung Sodikin Lubis, petani dan ustaz desa setempat. Menurut Sodikin, warga telah turun-temurun menggarap lahan yang diduga kawasan Register 47 itu. ”Warga pun memiliki surat kepemilikan tanah sejak tahun 1941,” katanya.

Rantinus dalam kesempatan itu juga menekankan, pembangunan proyek pemerintah di Tapanuli Tengah banyak yang terbukti masuk kawasan register itu, tetapi sejauh ini tidak bermasalah. ”Kasus ini hanya untuk membungkam saya atas kasus- kasus tanah yang saya dampingi selama ini,” ujarnya.

Menerima laporan

Direktur Reserse Kriminal Polda Sumut Komisaris Besar Agus Andrianto mengatakan, polisi hanya bertugas menerima laporan masyarakat dan menindaklanjuti. Kasus dugaan penyerobotan lahan di Register 47 yang melibatkan Rantinus, katanya, dilaporkan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumut.

Dalam surat panggilan polisi kepada Rantinus, antara lain disebutkan, Rantinus adalah tersangka dalam perkara tindak pidana mengerjakan, menggunakan, dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah dan atau merambah, membakar kawasan hutan yang terletak di Register 47 Desa Purba Tua dan Desa Hutaginjang, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah. (WSI)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/17/05211068/Polisi.Periksa.Pastor.Sibolga





Maju Terus Berantas Korupsi!

9 12 2009