Pikul Salib

25 11 2008

pikulsalib





Salut Iklan PDI Perjuangan

20 11 2008

Semenjak ramainya kontroversi “Guru Bangsa” dan “Pahlawan” tidaknya Soeharto pada iklan PKS, yg paling menarik perhatian dan ditunggu-tunggu oleh saya adalah iklan partai-partai politik yang para tokohnya “ditebengi” (kalau tidak mau dibilang “dicuri”) oleh PKS.

Kemarin saya melihat iklan PDIP di televisi setelah sekian lama menunggu, isinya rupanya sangat jauh dari perkiraan saya. Iklan yang sedikit sekali tayangnya dibandingkan partai Gerindra dan PKS, tentu budgetnya juga jauh lebih sedikit. Saya kira PDIP dalam iklannya akan “merebut” kembali tokoh Soekarno yang “dipinjam” PKS. Ternyata tidak. Iklan PDIP sederhana, menyentuh dan tepat sasaran. Dengan mengusung kampanye sembako murah, dalam iklan tersebut Ibu Mega mengajak seluruh kader PDIP untuk mendukung pengadaan sembako murah untuk wong cilik.

Sebuah iklan sederhana tapi menyentuh. Tidak teriak-teriak banyak omong untuk membangun image “Kecap No 1” sambil menyerobot nama “Kecap Cap Pahlawan” . Sekali lagi sebuah iklan yang sederhana yang mengajak berbuat baik untuk rakyat kecil tanpa banyak teori.

Kalau saya boleh mengambil kesimpulannya, untuk apa biaya iklan jor-joran milyaran rupiah hanya untuk membangun image partai (dengan nebeng tokoh pulak), mending iklan sedikit untuk mengajak orang mengingat kebutuhan wong cilik.

Merdeka!

megawati3





Siapa Bilang Harus Cewek ?

18 11 2008

siapabilang





Togolman : Tirani Gerombolan Jenggot Suci 2

18 11 2008

togolman2





We Were Soldiers !

10 11 2008

Hari Pahlawan, Toleransi dan Telor asin

Bat. Front Bandung Timur
L.Siagian BA
M. Girsang
DR.L Tobing
Manik BA
M. Saragih
W. Napitupulu
M.Purbaraja
D.L Toruan
M.Napitupulu
S. Nainggolan

Bat. Front Bandung Barat
M. Sihombing
A.Siagian

Bat. Front Bandung Selatan
A. Lubis

Bat. Front Bandung Timur
Meliala P.A PI
D. Napitupulu

(mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama/marga atau ada yang terlewat)

Ketika mendengar lagu “Halo-Halo Bandung” yang teringat mungkin kota Bandung yang menjadi lautan api, yaitu ketika TKR dipaksa meninggalkan sebagian kota dengan rel kereta sebagai batas demarkasi oleh kolonial Belanda. Anggapan itu separuh benar, karena kejadian peledakan gudang mesiu Belanda oleh Moh. Toha dan Ramdan yang menjadi puncak peristiwa itu sebenarnya ada di Dayeuh Kolot.
img0066a1

Beberapa waktu lalu, saya berjalan-jalan di kota Dayeuh Kolot yang sejuk tapi padat dan melihat tugu itu, sungguh kaget ketika menemukan nama-nama dengan marga-marga Batak tertera disana. Nama-nama tertulis diatas itu adalah beberapa nama-nama pahlawan berdarah Batak yang tertera di tugu peringatan Bandung Lautan Api di Dayeuh Kolot sekitar 15 Km arah selatan kota Bandung. Ada satu lagi tugu Bandung Lautan Api yang lebih besar di Lapangan Tegal Lega, Bandung. Tapi kejadian puncak peristiwa Bandung Lautan Api menurut penduduk yang saya “wawancarai” ada di lokasi tersebut.

img0059a1

Menurut beberapa orang tua (Batak) yang pernah saya temui, orang Batak pertama yang merantau ke Jawa Barat, dan Bandung khususnya adalah tentara. Betapa bangga sekaligus sedih ketika melihat keadaan orang Batak yang merantau ke Bandung sekarang, amat prihatin bahkan sengsara, tidak jauh beda dengan pendahulunya yang sudah berjuang mengorbankan nyawa bagi kemerdekaan negara ini. img0065a1

Kebanyakan orang Batak yang datang ke Kota Bandung dan sekitarnya, sepanjang pengetahuan saya, adalah mereka yang mencari sekolah/universitas yang lebih baik. Ketika nasib memaksa mereka bertahan hidup di kota kembang itu, sebagian besar mengisi lapangan kerja non-formal seperti berdagang, sopir angkot dan sebagian lagi menjadi buruh pabrik. Sisanya mereka yang berhasil, bersenang-senang menikmati hidup mengikuti gaya hidup di kota Bandung yang materialistis, hedonis, fashion minded, dan santai.

Nila setitik rusak susu sebelanga
Peribahasa yang cocok menggambarkan image penduduk kota Bandung terhadap orang Batak yang dikenal suka meminjamkan uang dengan bunga (rentenir / lintah darat). Menurut penatua yang sudah cukup lama tinggal disana, sebagian ” Bank Perkreditan Rakyat (BPR) INANTA ” ini hanya sedikit jumlahnya dan awalnya tidak berprofesi itu. Namun inilah yang paling diingat penduduk Bandung tentang orang Batak. Psiko-sosial penduduk Bandung juga turut membuka kesempatan bagi mereka ber”karya”. Karena ketika hari raya datang, tidak sedikit yang meminjam uang walaupun sudah tahu bahwa mereka rentenir dengan bunga mencekik.

Keadaan Gereja di Dayeuh Kolot
Perjalanan saya lanjutkan kembali, dari tugu menuju ke arah Gereja Katolik kurang dari 1 Km ke arah Timur dari lokasi. Satu-satunya gereja yang sempat dibangun (kalau tidak mau dikatakan “dilarang berdiri”) di Dayeuh Kolot. Tak usah saya ulas, silahkan lihat sendiri keadaannya dari foto dibawah. Sudah lebih dari 10 tahun gereja Katolik ini mengusahakan izin agar berdiri namun izin dari Pemda dan penduduk di sekitar gereja tak kunjung keluar. Jumlah Kepala Keluarga beragama Katolik di Dayeuh Kolot, menurut sumber yang dapat dipercaya, sekitar 400 KK. Jadi kebutuhannya sudah sangat mendesak, karena kebanyakan mereka harus menempuh sampai belasan Kilometer ke Bandung untuk beribadah. Terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada TNI KODAM III SIliwangi, Khususnya YON ZENI TEMPUR yang rela menyediakan lahannya untuk menampung umat Katolik.

img0068a1

Bagaimana dengan gereja lain?
Menurut informasi yang penulis dapatkan, Jemaat HKBP Dayeuhkolot (yang dahulu ramai diberitakan ditutup karena ditentang masyarakat sekitar) sempat menggunakan ruang serbaguna di salah satu gedung Kodam III Siliwangi masih dalam lokasi Tugu Pahlawan Bandung Lautan Api tersebut diatas. Sekali lagi terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada TNI KODAM III SIliwangi, Khususnya YON ZENI TEMPUR yang rela menyediakan ruang serbagunanya untuk mereka.

Jemaat dari denominasi lainnya sebagian menggunakan rumah sebagai tempat ibadah. Inilah yang berpotensi menimbulkan konflik sosial. Disatu sisi penggunaan rumah sebagai tempat ibadah memang menyalahi peraturan, disisi lain, bukan tidak ada usaha dari umat Kristen untuk mendapatkan izin, tetapi entah mengapa lebih mudah mendapatkan izin untuk mendirikan mall, ruko bahkan tempat permainan biliard yang sering digunakan untuk berjudi, daripada izin mendirikan tempat ibadah. Sementara jumlah umat Kristen yang terus bertambah jumlahnya, bukanlah manusia yang tidak kasat mata yang tidak terlihat ketika di minggu pagi kebingungan mencari tempat ibadah. Menurut penatua halak hita yang sudah lama tinggal di Bandung, jika jumlah punguan, anggota parsahutaon dll, dihitung maka ada sekitar 500 KK untuk Bandung Selatan, maka Jumlah orang Batak yang tinggal di Bandung dan sekitarnya sudah mencapai sekitar 3000 orang. Sampai sekarang tak ada satupun gereja yang berdiri di Dayeuh Kolot.

Introspeksi
img0067a3Mungkin inilah pesan Kristus kepada kita, bahwa perilaku hidup orang Kristen umumnya dan Batak khususnya belum mencerminkan kasih Kristus secara nyata, sehingga saudara-saudara kita yang muslim belum rela disebelah rumahnya berdiri gereja, yang walaupun nama-nama pahlawan yang sudah berkorban nyawa tertera jelas di tugu itu, tidak menjamin kemerdekaan beragama dan menumbuhkan sikap toleransi di negara ini.

Hubungannya dengan telor asin?
Di pasar yang tak jauh dari lokasi tugu banyak yang jual telor asin.

We Were Soldiers!





Protes

4 11 2008

protes1





Terkenal

4 11 2008

batakterkenal21