kekentalan rasa persaudaraan orang batak memang sangat kuat. persaudaraan bisa saja terjadi karena apasajalah. yang paling menakjubkan, sudah keturunan ke tujuh pun masih dibilang ai solhot dope hami atau apala hami do pe i. he…he…
Martarombo itu memang baik, cuma ya seperti dalam kasus ini jangan dipake untuk memuluskan yang bengkok (melanggar peraturan) dan menelantarkan kewajiban (mengantar penumpang).
itu polisi lalulintas atau polisi pengawas partarombo on …????
biasanya, kalo polisi nawarin tilang : topi agak diturunkan, papan nama ditutupin (apalagi kalo sesama) dan posisi badan agak dimiringkan ….
tapi syalut lah, mungkin nanti si polisi akan mengusulkan agar dalam data SIM dicantumkan tarombo dan nomor partubu …
syalut utk batak
Aku sendiri pernah mengalami lolos dari tilang karena tarombo..
Kejadiannya waktu di daerah Blok M, maklumlah awak ini yang langsung dari Siantar-nya, terkadang tidak tahu kalo di satu pengkolan tidak bisa belok apalagi kalo tanda lalu lintasnya tertutup pohon.
Nah, di salah satu jalan, belok lah awak, gak tahunya hanya Metromini bisa masuk situ…langsung gak berapa lama ada petugas polisi ngejar pake motor, disuruh minggirlah kita.
“Bapak gak boleh belok situ” katanya. Dari suhi-suhi di wajah, sudah ada dugaan kalo Bapak polisi ini sian hita on do. “Maaf Pak, kita baru di Jakarta ini’ begitu kataku saat mulai berdalih. “Masa ? Coba minta SIM” kata Bapak polisi. Kukasih lah SIMku, hanya sebentar dia liat, kata2 pertamanya langsung : “Bah, Simanjuntak sian dia hamu ?” Untunglah masih lancar Bahasa Batak awak, jadilah kita martarombo. Ternyata Pak Polisi Simanjuntak juga dan masih manggil Bapauda dari sudut partaromboan. Akhirnya tidak jadi tilang, dimaafkan (sambil diingatkan jangan mengulangi kesalahan) lalu diakhiri dengan saling salam dan mandok mauliate….
Ketika seorg pemuda batak, yg lupa bawa stnk saat dirazia, mau ditilang polisi yg kebetulan semarga dengan dia. si pemuda sok akrab membuka perkenalan dgn ‘martarombo’. kali ini sang polisi masih tergerak darah kebatakannya, dan memaafkan si pemuda tanpa menilang; dia cuma diperingati.
Besoknya di jalan yg sama, kebetulan si pemuda ditilang lagi oleh org yg sama dan dgn kesalahan yg sama. si pemuda mulai lagi ‘merayu’ polisi dgn tarombo. namun si polisi, karena mungkin sudah kesal krn udah diingatkan kemaren, bilang begini dgn nada 1/2 membentak: “TAK ADA LAGI TAROMBO2 !!!″, katanya sambil mengisi blanko surat tilang.
Bah, untung saja aku sudah belajar dari kesalahan dan buat salah lagi di tempat yang sama. Kalo engga bisa-bisa jadi kayak di ceritanya Lae @ nagabonar.
Oh ya Lae Jeph, hari ini aku ketemu situs lain yang ada kartun2 lucu juga, namanya ‘Kartun Medan’ bisa dilihat di http://kartunmedan.wordpress.com
Lumayan buat bersenyum ria
Mungkin pemilik web-nya orang sibuk Lae, karena kayaknya dia mengelola banyak ‘web-blog’
Selamat berakhir pekan… Oh ya, nanti kalo anakku lahir pertengahan Juni ini, boleh gak aku minta tolong Lae Jeph buatkan satu kartun sebagai kado untuk dia ..hehehe Intinya soal bagaimana orang Batak biasanya heboh sekali menyambut cucu pertama, maklum anakku nanti akan jadi cucu pertama di kedua belah pihak…dan dari jauh2 hari Mama sudah titip nama panggoaran : Gabe, gak perduli yang lahir cowo atau cewe..hahaha
rasa persaudaraan orang batak emang kental banget. Tapi, kadang2 orang batak mencari-cari hubungan keluarga dengan seseorang karena seseorang itu orang yqang terpandang atu boleh dikatakan orang yang punya jabatan tinggi. Emang sich ndak semua, tapi lebih banyaknya seperti itu yang saya lihat di Pontianak. Jadi, kalau kenalan sesama orang batak, yang pertama ditanya pasti “Kerja or skul?” jadi terkadang saya merasa lebih nyaman berteman dengan yang bukan orang batak.tapi, yah…………….gitu dech……….
tuhan memberkati.
kekentalan rasa persaudaraan orang batak memang sangat kuat. persaudaraan bisa saja terjadi karena apasajalah. yang paling menakjubkan, sudah keturunan ke tujuh pun masih dibilang ai solhot dope hami atau apala hami do pe i. he…he…
Martarombo itu memang baik, cuma ya seperti dalam kasus ini jangan dipake untuk memuluskan yang bengkok (melanggar peraturan) dan menelantarkan kewajiban (mengantar penumpang).
itu polisi lalulintas atau polisi pengawas partarombo on …????
biasanya, kalo polisi nawarin tilang : topi agak diturunkan, papan nama ditutupin (apalagi kalo sesama) dan posisi badan agak dimiringkan ….
tapi syalut lah, mungkin nanti si polisi akan mengusulkan agar dalam data SIM dicantumkan tarombo dan nomor partubu …
syalut utk batak
Jeph.. entah berapa banyak mikrolet dan ‘05′ yang kau tembak dgn kartun ini.
sekaligus nembak Abang kita pulisi juga wakakakaka
Mantabb Lae..
Aku sendiri pernah mengalami lolos dari tilang karena tarombo..
Kejadiannya waktu di daerah Blok M, maklumlah awak ini yang langsung dari Siantar-nya, terkadang tidak tahu kalo di satu pengkolan tidak bisa belok apalagi kalo tanda lalu lintasnya tertutup pohon.
Nah, di salah satu jalan, belok lah awak, gak tahunya hanya Metromini bisa masuk situ…langsung gak berapa lama ada petugas polisi ngejar pake motor, disuruh minggirlah kita.
“Bapak gak boleh belok situ” katanya. Dari suhi-suhi di wajah, sudah ada dugaan kalo Bapak polisi ini sian hita on do. “Maaf Pak, kita baru di Jakarta ini’ begitu kataku saat mulai berdalih. “Masa ? Coba minta SIM” kata Bapak polisi. Kukasih lah SIMku, hanya sebentar dia liat, kata2 pertamanya langsung : “Bah, Simanjuntak sian dia hamu ?” Untunglah masih lancar Bahasa Batak awak, jadilah kita martarombo. Ternyata Pak Polisi Simanjuntak juga dan masih manggil Bapauda dari sudut partaromboan. Akhirnya tidak jadi tilang, dimaafkan (sambil diingatkan jangan mengulangi kesalahan) lalu diakhiri dengan saling salam dan mandok mauliate….
Ini cerita huomor:
Ketika seorg pemuda batak, yg lupa bawa stnk saat dirazia, mau ditilang polisi yg kebetulan semarga dengan dia. si pemuda sok akrab membuka perkenalan dgn ‘martarombo’. kali ini sang polisi masih tergerak darah kebatakannya, dan memaafkan si pemuda tanpa menilang; dia cuma diperingati.
Besoknya di jalan yg sama, kebetulan si pemuda ditilang lagi oleh org yg sama dan dgn kesalahan yg sama. si pemuda mulai lagi ‘merayu’ polisi dgn tarombo. namun si polisi, karena mungkin sudah kesal krn udah diingatkan kemaren, bilang begini dgn nada 1/2 membentak: “TAK ADA LAGI TAROMBO2 !!!″, katanya sambil mengisi blanko surat tilang.
Bah, untung saja aku sudah belajar dari kesalahan dan buat salah lagi di tempat yang sama. Kalo engga bisa-bisa jadi kayak di ceritanya Lae @ nagabonar.
Oh ya Lae Jeph, hari ini aku ketemu situs lain yang ada kartun2 lucu juga, namanya ‘Kartun Medan’ bisa dilihat di http://kartunmedan.wordpress.com
Lumayan buat bersenyum ria
Ditunggu kartun2 berikutnya ya Lae Jeph..
udah lihat dan udah kontak tapi gak dibalas lae
Mungkin pemilik web-nya orang sibuk Lae, karena kayaknya dia mengelola banyak ‘web-blog’
Selamat berakhir pekan… Oh ya, nanti kalo anakku lahir pertengahan Juni ini, boleh gak aku minta tolong Lae Jeph buatkan satu kartun sebagai kado untuk dia ..hehehe
Intinya soal bagaimana orang Batak biasanya heboh sekali menyambut cucu pertama, maklum anakku nanti akan jadi cucu pertama di kedua belah pihak…dan dari jauh2 hari Mama sudah titip nama panggoaran : Gabe, gak perduli yang lahir cowo atau cewe..hahaha
Oke lae! sukses dan semoga sehat – selamat ! Berdoa terus! JBU!
rasa persaudaraan orang batak emang kental banget. Tapi, kadang2 orang batak mencari-cari hubungan keluarga dengan seseorang karena seseorang itu orang yqang terpandang atu boleh dikatakan orang yang punya jabatan tinggi. Emang sich ndak semua, tapi lebih banyaknya seperti itu yang saya lihat di Pontianak. Jadi, kalau kenalan sesama orang batak, yang pertama ditanya pasti “Kerja or skul?” jadi terkadang saya merasa lebih nyaman berteman dengan yang bukan orang batak.tapi, yah…………….gitu dech……….
tuhan memberkati.