Bebal itu kata kerja

28 09 2011





Hadiah Lebaran Ustad Mokoginta

26 08 2011

Mari Belajar Menjawab Mereka 9

Beberapa tahun yang lalu, terbit sebuah buku yang eksotis dan menggemaskan kalau ku bilang, judulnya pun cukup menantang : “Mustahil Kristen Bisa Menjawab”. Ditambah pula hadiahnya yang mobil BMW itu, membuat buku ini menjadi semakin meyakinkan kalau orang Kristen bakal tidak bisa menjawab. Buku itu ditulis Ustad Ihsan L Mokoginta, seorang mualaf keturunan Manado – Tionghoa. Beliau cukup terkenal dikalangan muslim karena latar belakangnya yang mantan Kristen, membuatnya terlihat ahli dalam agama Kristen sehingga apa yang dikatakanya tentang kekristenan benar karena dianggap lebih “berpengalaman”. Bapak ini bersemangat sekali mengislamkan orang Kristen. Diberbagai pernyataannya beliau dengan terang-terangan mengaku sudah memualafkan banyak orang kristen, mendirikan lembaga serta menerbitkan banyak buku untuk Islamisasi yang menyerang Kekristenan.

Dalam buku ini ada sebelas pertanyaan dan setiap pertanyaan diberi nilai 10 juta rupiah apabila terjawab. Sebuah tantangan yang amat menarik, ditambah hadiah utama mobil BMW yang bikin ngiler tentu saja. Tapi banyak orang yang meragukan adanya hadiah tersebut yang memang agak lebay, alias berlebihan menurut istilah anak gaul sekarang. Sudah banyak jawaban yang diberikan atas “sayembara” ini, yang amat baik, diantaranya buku “Siapa Bilang Kristen Tidak Bisa Menjawab” oleh Pdt Budi Asali, di internet juga bertebaran pembahasannya, salah satunya klik disini. Namun tetap saja jawaban yang ada ini dinilai bukan jawabannya, karena memang bukan itu jawaban yang mereka inginkan. Jawaban yang benar bagi mereka adalah jawaban yang persis sama dengan yang mereka mau. Sampai sekarang tidak jelas bagaimana akhir “sayembara” ini.

Buku Ustad Mokoginta ini juga bukti bagaimana jargon Alquran “Agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu” menjadi mentah oleh muslim sendiri. Jargon defensif dan ekslusif ini yang sering diucapkan muslim seakan-akan tidak mau usil mencampuri agama lain, ternyata dikangkangi oleh Ustad mereka sendiri. Bagaimana tidak, tanpa ada angin tak ada hujan, tiba-tiba terbitlah buku yang ofensif seperti ini. Bayangkan kalau terbit buku semacam ini dari pihak non muslim.

Disini saya tidak mencoba menjawab satu-persatu pertanyaan dari Bapak Mokoginta, apalagi mencoba mendapatkan BMW-nya (kalau dari seri X kesukaan saya, akan saya pertimbangkan). Saya mencoba mencari tahu bagaimana cerdiknya pak Mokoginta ini. Bagi saudara-saudaraku seiman yang belum mengetahui bukunya atau bahkan duduk perkaranya, ada baiknya mencari tahu dahulu pembahasan yang sudah diberikan oleh salah satu penjawab yang ada diatas, supaya tahu jawabannya karena yang saya bahas diluar dari pada itu. Mari kita perhatikan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaannya:

1. Apakah Yesus beragama Kristen?
2. Mana Ajaran Yesus ketika 13 sampai 29 tahun?
3. Pernahkan Yesus Mengatakan: “Akulah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”
4. Pernahkan Yesus Mengatakan: “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”
5. Mana perintah Yesus atau Tuhan untuk beribadah pada hari Minggu?
6. Mana dalilnya dalam Alkitab Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia?
7. Mana dalilnya asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dijamin “pasti masuk surga”
8. Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya?
9. Mana dalilnya Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah merayakannya!
10. Buktikan siapa yang hapal Alkitab walau satu surat saja diluar kepala!
11. Pertanyaan hadiah BMW: Mana bukti ucapan Yesus yang mengatakan bahwa ada tertulis demikian: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” dalam kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur.

Kalau memang Ustad Mokoginta ini tulus melakukan sayembara, beliau seharusnya membayar banyak orang Kristen minimal 10 juta rupiah masing-masing. Karena saya kira banyak orang Kristen yang baik bisa menjawab pertanyaan nomer 7 dengan mudah. Belum lagi pertanyaan lain yang orang awam seperti saya bisa menjawabnya. Jadi minimal sekali 20 Juta. Tapi itulah, jawaban yang kita berikan hampir pasti dinilai salah kalau bukan itu jawaban yang sama persis dia mau. Namanya juga dia yang melakukan sayembara, dia pula yang mengangkat diri jadi jurinya. Tapi buat muslim yang membaca tulisan ini dan ingin tahu jawabannya, ini jawabannya:

Yoh 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yoh. 14:6
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kis. 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Kembali ke la…pooo! Perhatikan bentuk pertanyaan yang diberikan Ustad Mokoginta diatas. Hampir semua pertanyaan meminta secara presisi/akurat data/dalil atau fakta. Variasinya hanya “mana dalil” dan “pernahkan” yang intinya sama yaitu meminta data akurat. Disinilah jebakan Betmen itu berada. Kenapa saya katakan begitu, ingatlah bahwa buku ini yang walaupun ditujukan untuk orang Kristen, tetapi yang membaca sebagian besar adalah muslim. Ini keuntungan awal yang entah sengaja atau tidak oleh Ustad Mokoginta untuk membuat pertanyaan kearah data yang presisi/akurat seperti diatas. Beliau tahu betul pertanyaan-pertanyaan itu memerlukan penjelasan. Ini tampak dari setiap ulasan yang dia tulis dalam bukunya setelah 1 pertanyaan, terlihat betul dia sudah menguasai dan mengarahkan jawaban. Sehingga kita diarahkan harus menjawab yang diminta saja. Sedangkan pembacanya yang muslim, yang sebagian besar tidak tahu duduk masalahnya, sudah diarahkan oleh pertanyaan itu sendiri agar mendapat jawaban yang singkat. Sehingga apapun jawaban yang diberikan akan terasa “berputar-putar”. Bentuk pertanyaan seperti ini secara otomatis akan memangkas penjelasan yang sebenarnya diperlukan sekaligus mendiskreditkan jawabannya kalau terlalu panjang. Ini murni “kecerdikan” beliau.

Yang agak berbeda dari semua adalah pertanyaan nomer 1: Apakah Yesus beragama Kristen?. Bagi kita pertanyaan ini konyol sekali. Sama saja seperti bertanya kepada muslim: Apakah Allah beragama Islam? Bodoh sekali bukan? Tentu saja jawabannya adalah: Tidak. Bagaimana mungkin Kristus jadi pengikut Kristus?

Walaupun Yesus dalam hidupnya melakukan ibadah Yahudi, tetapi jelas Dia melakukan itu untuk reformasi besar yang dilakukanNya dari agama Yahudi seperti: Pembaptisan, Perjamuan Kudus, Konsep tentang DiriNya yang satu dengan Allah, Penebusan dosa, KedatanganNya yang kedua kali, dll, dlsb, dst yang membuat pengikutnya berbeda dari agama Yahudi. Harap diingat umumnya muslim tidak mengetahui bahwa Yesus tidak pernah membawa agama ke dunia ini. Pendapat ini dipengaruhi oleh Alquran yang menyatakan bahwa Isa Al masih adalah nabi dan pembawa agama nasrani. Dan perhatikan bahwa pertanyaan Ustad Mokoginta ini jadi berlawanan dengan Alquran. Kalau memang Yesus tidak beragama Kristen, lalu kenapa Ustad ini bertanya lagI? Konyol bukan? Bukankah Alquran jadi terbukti salah kalau Yesus tidak beragama Kristen? Ini blunder yang diciptakan oleh ustad mereka sendiri. Biarlah mereka sendiri yang bingung.

Lantas apakah ini membuat kekristenan salah? Apakah Kristen seharusnya tidak boleh ada lantaran Yesus bukan Kristen? Persepsi inilah yang sedang dimainkan Ustad Mokoginta. Bagi muslim adalah aneh kalau Yesus sendiri tidak beragama Kristen. Ini karena mereka selalu berpatokan Yesus/Isa itu sama seperti Muhammad yang mendirikan agama lantas melakukan segala ritual agama itu, sembari mencontohkannya ke pengikutnya. Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang memainkan rumus yang sama: kalau tidak ada, maka salah. Simple question from simple mind.

Pertanyaan nomer 3 & 4 pun bernuansa yang sama. Kalau Yesus tidak pernah berkata: “Akulah Tuhanmu, sembahlah Aku saja” maka Yesus bukan Tuhan. Kalau Yesus tidak pernah berkata “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya” maka Alkitab bukan wahyu Tuhan. Pola pikir yang berulang-ulang dimainkan oleh banyak ulama mereka. Pertanyaan no 1, 3 & 4 diatas sudah dikondisikan dalam persepsi muslim terlihat dari pola pikir pertanyaan yang muncul. Pertanyaan nomer 5 & 9 pun masih berada dalam ruang lingkup seperti ini.Bagi mereka, kalau Yesus tidak mengatakan atau Alkitab tidak menuliskan dengan persis, maka beribadah hari Minggu itu salah, dan merayakan natal tanggal 25 Desember itu juga salah. Apakah orang Kristen tidak jadi masuk surga kalau salah tanggal merayakan Natal atau salah hari beribadah? Memprihatinkan sekali cara ulama mereka mendidik umatnya.

Dari seluruh pertanyaan yang paling konyol menurutku adalah no. 8: Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya? Ini pertanyaan salah secara bahasa, karena baru tahun 1930-an fotografi ditemukan. Entah bagaimana menemukan foto dari tahun awal Masehi?. Anggaplah ini bukan salah satu trik yang beliau gunakan. Anggaplah yang dimaksud adalah gambar lukisan dan pelukisnya. Kalau ditanya mana lukisan asli dan siapa pelukisnya, ini juga konyol. Dalam bukunya Ustad Mokoginta menunjukan banyak lukisan Yesus yang berbeda-beda. Tentu saja beda, sebab mereka yang melukis itu tidak ada yang pernah melihat Yesus. Jadi memang tidak ada gambar yang dijamin mirip dengan wajah asliNya.

Ustad Mokoginta sudah mengetahui bahwa tidak ada lukisan Yesus yang dijamin kemiripannya 100%. Lantas untuk apa beliau mengajukan pertanyaan ini? Kuncinya ada pada pembacanya. Mereka yang membaca buku ini kebanyakan adalah muslim yang mengira bahwa kita ini mempercayai lukisan Yesus yang banyak beredar sekarang sebagai lukisan wajah Yesus asli. Dalam pikiran mereka hal ini adalah kebodohan dan menjadi bahan tertawaan. Beliau tahu hal ini dan mempergunakan persepsi mereka ini untuk menjatuhkan kredibiltas Kekristenan. Walaupun hal itu tidak ada pengaruhnya untuk kita, karena kita sudah tahu hal ini, namun pertanyaan ini membuat mereka bersemangat karena mengira menemukan aib-aib segar yang membuat mereka semakin yakin bahwa Islam agama yang paling benar dimata Allah mereka.

Pertanyaan nomer 2 masih seragam dengan nomer 8. Bagaimanakah kita menemukan catatan tentang Yesus dari umur 13 sampai 29 tahun kalau memang tidak ada? Apa itu berarti Kekristenan runtuh kalau tidak ada catatannya? Apa itu berarti Isa Al Masih jadi bukan nabi yang diakui Alquran kalau tidak ada catatannya?

Untuk pertanyaan nomer 10 dan 11 sudah terjawab dengan baik disini >>Klik disini<<. Bahwa ada orang yang pernah hapal Alkitab dan penjelasan yang baik sekali dari pertanyaan nomer 11. Bapak Ustad Mokoginta berhutang minimal 20 juta dan mobil BMW untuk sarapanpagi.org

Jadi apa saja yang dipergunakan Ustad Mokoginta untuk menyusun buku ini? Pertama, pertanyaan-pertanyaan yang sudah dikondisikan yang meminta jawaban singkat & akurat padahal sebenarnya sudah tahu harus dijawab dengan penjelasan. Kedua, yang menjadi jurinya adalah dirinya sendiri, sehingga apapun jawabannya yang menilai Ustad Mokoginta sendiri. Ketiga, hadiah yang menghebohkan sehingga meyakinkan pembaca muslim bahwa tak ada orang Kristen yang bisa menjawab. Murni "kecerdikan" seorang ulama.

Untuk itu aku pun mau memberikan hadiah untuk Ustad Mokoginta. Hadiahnya bukan barang mewah macam mobil BMW ataupun Boeing 747. Saya tidak memiliki bentuk pertanyaan yang menjebak yang meminta dalil atau semacamnya. Begini, salah satu Hadits mengatakan : “Pada akhir jaman, umatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) cabang, dan yang masuk surga hanyalah satu, yakni yang kembali kepada Al~Qur’an dan Hadist!”

Pertanyaan saya: Bapak Ustad Mokoginta yakin bahwa aliran Islam yang bapak anut sekarang adalah yang menjadi satu-satunya aliran yang bakal masuk surga?

Hadiahnya adalah anda mengatakan jawabannya pada setiap Non muslim yang anda Islamkan.





Siap Grak!

16 08 2011





Bernyanyilah Nazarudin

8 08 2011





Membeo

3 08 2011





Tebang Pilih

25 11 2010





Jawaban Terhadap Surat Terbuka Rahmat Siliwangi, Warga Mustika Jaya, Bekasi

22 09 2010

Dikutip dari Rakyat Merdeka Online Jum’at, 17 September 2010 , 15:25:00 WIB

Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut. Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini. Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.

SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan. Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli. Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP. Warga selain musliUuim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan. Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan. Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.
Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak. Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.
Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak. Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.
Dan kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP. Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).
Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa, Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka. Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anda ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.
Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar. Kita ini orang
timur, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidak dimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun! Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.
Salam,
Agustus 2010,
Mustika Jaya Bekasi
Rahmat Siliwangi

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=4062

http://supermilan.wordpress.com/2010/09/18/inilah-alasan-lengkap-warga-mustika-jaya-tolak-gereja-hkbp/

===================================================

Saya bisa mengerti bagian dimana orang Batak dinilai kasar dan arogan dikarenakan logat bicara orang Batak yang sangat khas. Saya kira semua orang Batak pernah mendengar perndapat itu, dan kami memakluminya. Tapi sebenarnya kita harus sadar, antara “terdengar kasar” dengan “bermaksud kasar” ada perbedaan mendasar. Sebagai orang Batak yang tinggal di Banten, lucunya saya juga mendengar komentar yang sama dari orang Sunda Bandung mengenai logat bicara orang Sunda Banten yang bagi kami biasa saja, tapi dinilai arogan, keras, dan kasar serta sok jagoan. Konyolnya lagi pendapat warga Banten tentang orang Madura yang juga kurang lebih sama atau antara orang Betawi dengan orang Sunda misalnya yang dinilai genit dan suka bercanda seronok alias cunihin. Begitu juga warga Betawi yang dinilai suka bicara kasar, ngotot dan petantang petenteng mentang mentang penduduk asli Masih banyak contoh lain yang bisa kita kemukakan disini. Dan kami bisa mengerti itu karena kami merasakan juga stereotype yang sama padahal itu bukanlah kearoganan ataupun kesombongan. Itu murni cara bicara yang tidak ada hubungannya dengan kearoganan. Tidak ada sangkut pautnya logat bicara seorang Banten dengan kejagoannya dia bersilat lagak jawara misalnya. Kami mengerti banyak faktor yang membuat mereka begitu tanpa harus memandang bahwa semua orang dari suku mereka pasti begitu.

Saya tidak mendapat alasan kuat dari pendapat Anda ini : “mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri”…” dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi”…”Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka” Bagaimanakah kami harus hormat kepada warga sekitar? Haruskah kita bersalam-salaman terus setiap ketemu? Atau haruskah kami meminta ijin setiap kami lewat? Mestikah kami mencium tangan tetua warga setiap berpapasan? Saya pikir sekedar menyapa atau bilang permisi itu sudah cukup sopan. Kalaupun ada yang tidak menyapa, itu bukan berarti tanah anda menjadi hak milik mereka bukan?

Saya heran anda tidak mengerti bagaimana orang Batak mulai berdatangan ke rumah yang dijadikan gereja. Itu dikarenakan mereka adalah pendatang seperti halnya kami mengerti bagaimana di kampung kami banyak suku Jawa atau Minang atau Aceh atau Melayu dan mereka mendirikan masjid lantas berdatangan untuk beribadah. Itu karena kami mengerti mereka tinggal berjauhan dan ditempat mereka tidak ada masjid. Saya tidak memandang mereka yang mondar-mandir mau beribadah ke masjid tanpa menyapa opung kami sebagai sesuatu yang arogan.

Saya tidak mendapat bukti kuat dari pendapat Pak Rahmat : “Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku. Bisa dijelaskan apa bentuk intimidasi tersebut? Saya pikir menggoda wanita bukanlah perilaku orang Batak saja. Kita semua juga pernah mendapat pengalaman itu, putri saya juga sering digoda penduduk bukan pendatang. Pemuda mereka pun sering mabuk-mabukan bahkan memakai narkoba. Apakah itu menjadi stereotype kami terhadap warga asli? Hanya karena beberapa orang dari mereka genit, mabuk-mabukan dan memakai narkoba lantas semua warga asli memang bejat? Ada yang aneh dari pernyataan anda disini. Anda menyamaratakan stereotype yang di suku manapun ada pelakunya.

Mengenai makan dan memotong babi, sekedar info, sebelah rumah saya adalah seorang haji yang tiap Idul Adha memotong puluhan kambing. Anda bayangkan bau feses dan kencing yang dikeluarkan binatang itu sampai ke rumah saya. Apa saya merasa terintimidasi? Saya memaklumi hal itu sebagai bagian yang harus dipikul bersama sebagai warga negara heterogen dimana semua kepentingan publik dapat bersinggungan. Saya tidak mengerti bagaimana bau daging bisa membuat hal itu sebagai suatu hal yang menghina dan dinilai arogan atau tidak tahu diri. Pengalaman anda itu kami rasakan juga dikampung kami dan kami tidak memandangnya sebagai hal yang negatif. Tentu saja pandangan negatif ini ada karena Islam mengharamkan hal itu. Sama halnya kami memandang negatif muslim yang bangga berpoligami di kampung kami bahkan mempropagandakan hal itu sebagai budaya timur. Jelas ini lebih berbahaya dari sekedar makan daging babi atau anjing. Ini juga merusak tatanan sosial yang ada disana, juga mersuak mental dan moral generasi muda dan jelas ada hubungannya dengan ajaran Islam. Tapi apakah kami melarang masjid berdiri? Kan tidak.

Yang saya tidak mengerti adalah bagian ketidaksukaan anda terhadap “tindak-tanduk” orang Batak berakibat dengan tidak diberikannya ijin mendirikan gereja. Saya amat sangat bingung kalau anda menghubungkan kearoganan, kekasaran, kesembronoan, ketidaktahu dirian, ketidak tahu maluan, dan sikap menyebalkan kami dengan ijin beribadah. Padahal anda sendiri menyatakan bahwa banyak non muslim yang bukan Batak berpendapat sama dengan anda. Jadi bukan gereja yang jadi masalah.

Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.

Jelas sekali kalau Bapak Rahmat Siliwangi hendak membelokkan masalah pembangunan gereja dengan mengait-ngaitkannya kepada stereotype negatif orang Batak. Jelas sekali Pak Rahmat melebih-lebihkan kalau semua kekerasan dan kejahatan yang terjadi disana itu hanya dan oleh orang Batak saja. Kalau boleh saya menyimpulkan pendapat Anda, karena perilaku orang Batak sudah paling buruk di bumi ini lah maka tidak pantas untuk beribadah, maka tidak boleh mendirikan gereja. Entah apa bapak mengerti, bahwa ini tidak nyambung bahkan terkesan dicari-cari. Pernyataan Anda bahwa banyak warga non muslim pun merasa tidak suka dengan perilaku negatif orang Batak diatas sebenarnya sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak berhubungan dengan agama.

Sebagai orang Batak, saya mengerti ada banyak ketidak sempurnaan dalam perilaku orang Batak. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak sempurna. Sebagaimana saya juga mengerti ketidaksempurnaan warga muslim di kampung kami atau dimanapun. Tapi itu bukan berarti kami melarang mereka beribadah dengan melarang mereka mendirikan masjid. Sama halnya saya tidak begitu yakin bahwa setiap warga Mustika Jaya adalah calon penghuni surga berhati malaikat yang berakhlak mulia tanpa ada cela.

Salam.
Tuhan Yesus Mengasihi Anda.
Jephanya Manalu





Negeri Pancasila Dalam Rahmatan Lil Al Amin

21 09 2010








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.